Pengolahan Air Limbah dari Wet Scrubber untuk Proses Flue Gas Desulfurization

Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu emisi penting di instalasi pembangkit listrik (power plant) tenaga batubara. Salah satu cara yang digunakan untuk menurunkan konsentrasi SO2 dari gas buang (flue gas) atau dikenal dengan flue gas desulfurization (FGD) adalah menggunakan wet scrubber. Metode pengolahan gas buang yang satu ini terutama diaplikasikan pada emisi dengan kandungan sulfur yang tinggi. Di satu sisi, wet scrubber dapat mengatasi polusi udara dengan cara menurunkan kandungan SO2 dari dalam gas buang. Akan tetapi, di sisi lain metode penyisihan polutan udara ini menghasilkan limbah cair yang harus diolah.

Limbah cair yang dihasilkan dari proses FGD dengan wet scrubber bersifat asam dan memiliki kandungan CaSO4 yang sangat tinggi. Di samping itu juga mengandung TDS, TSS, logam berat, klorida, dan zat organik terlarut yang tinggi. Pengolahan limbah cair dari wet scrubber sebaiknya dilakukan di sistem tersendiri, tidak digabung dengan instalasi pengolahan limbah eksisting di power plant. Alasan pemisahan sistem pengolahan antara lain karena:

  • Kapasitas yang dimiliki oleh IPAL eksisting kemungkinan tidak memadai
  • Material konstruksi yang dimiliki umumnya tidak sesuai untuk limbah dengan karakteristik klorida yang tinggi
  • Desain proses pada IPAL eksisting kemungkinan tidak sesuai untuk memenuhi kebutuhan pengolahan air limbah dari wet scrubber

Pengolahan air limbah yang diperlukan tergantung pada karakteristik limbah yang dihasilkan dan akan berbeda dari satu power plant dengan yang lainnya. Skema berikut ini merupakan tahapan umum pengolahan limbah cair dari wet scrubber untuk proses FGD.

Sumber: www.water.siemens.com

Kombinasi antara pengolahan fisik-kimia yang terdiri dari proses presipitasi, koagulasi, pengendapan, dan filtrasi merupakan yang paling umum dipakai. Rangkaian proses dimulai dari peningkatan pH menjadi 8.5-9.2 untuk memungkinkan terjadinya pengendapan logam-logam utama seperti aluminium, besi, dan mangan. Zat kimia yang biasa ditambahkan untuk menaikkan pH adalah kalsium hidroksida (Ca(OH)2) atau natrium hidroksida (NaOH). Untuk mengendapkan logam-logam sulfida, dilakukan penambahan organosulfida. Penambahan koagulan bertujuan untuk meningkatkan performa pengendapan. Tahapan selanjutnya setelah pengendapan adalah netralisasi menggunakan asam klorida (HCl). Setelah itu, jika diperlukan, dapat dilakukan proses filtrasi untuk menghasilkan air olahan dengan kandungan suspended solids yang rendah. Air hasil backwash pada proses filtrasi diresirkulasi ke hulu sistem.

Sumber: www.water.siemens.com (Treating FGD Wastewater: Phase 2 Clean Air Act Amendments Make It Hot Topic, by Brian Heimbigner), diakses 26 Maret 2014