Tag Archives: air limbah industri

Baku Mutu Air Limbah bagi Kegiatan Industri Jawa Timur

Baku mutu limbah cair berdasarkan PerGub Jatim No. 72/ tahun 2013 ini mengatur industri-industri yang dikelompokkan ke dalam lima kategori utama yaitu industri kimia organik dan turunannya, industri kimia anorganik dan turunannya, kegiatan usaha lain, kawasan industri, dan kegiatan industri lain.

A. Industri Kimia Organik dan Turunannya
1. Industri pulp dan kertas
2. Industri kertas
3. Industri ethanol
4. Industri MSG dan lysine
5. Industri penyamakan kulit
6. Industri gula
7. Industri sorbitol
8. Industri karet
9. Industri tekstil
10. Industri Urea, Pupuk Nitrogen, Pupuk ZA dan Ammoniak
11. Industri Pupuk Phosphat, Pupuk Majemuk, NPK dan Asam Phosphat
12. Industri Cat dan Tinta
13. Industri Pestisida
14. Industri Kayu Lapis
15. Industri Asam Citrat
16. Industri Minyak Kelapa Sawit
17. Industri Minyak Nabati, Sabun/Detergent
18. Industri Oleokimia Dasar
19. Industri Pengalengan/Pengolahan Ikan
20. Industri Tepung Ikan
21. Industri Cold Storage
22. Industri pengolahan rumput laut
23. Industri Ber-alkohol
24. Industri Susu dan Es Krim
25. Industri Minuman
26. Industri Biskuit dan Roti (Bakery)
27. Industri Pengupasan Biji Kopi / Coklat
28. Industri Kembang Gula
29. Industri Saos
30. Industri Bumbu (Seasoning)
31. Industri Pengolahan Kedelai
32. Industri Mie dan Kerupuk
33. Industri Pengolahan Daging
34. Industri Pengolahan Daging Bekicot
35. Industri Pengolahan Buah-Buahan dan/atau Sayuran
36. Industri Tapioka
37. Industri Tepung Beras dan Terigu
38. Industri Farmasi.
39. Industri Rokok dan Cerutu
40. Industri Karton Box
41. Industri Penyulingan Pelumas Bekas
42. Industri Vinyl Chloride Monomer dan Polyvinyl Chloride
43. Kegiatan Eksplorasi dan Produksi Migas di Lepas Pantai (off-shore)
44. Kegiatan Eksplorasi dan Produksi Migas dan Fasilitas Darat (On-Shore) Lama
45. Kegiatan Eksplorasi dan Produksi Migas dan Fasilitas Darat (On-Shore) Baru
46. Eksplorasi dan Produksi Panas Bumi
47. Industri Pengolahan Minyak Bumi
48. Kegiatan Pengolahan Minyak Bumi
49. Kegiatan Pengilangan LNG dan LPG Terpadu
50. Proses pengilangan LNG dan LPG terpadu
51. Industri Petrokimia Hulu
52. Industri Rayon
53. Industri Lem
54. Industri Poly Ethylene Terephthalate (PET)
55. Industri Purified Terephthalic Acid (PTA)

B. Industri Kimia Anorganik dan Turunannya
1. Industri Inosine Mono Phospat (IMP)
2. Industri Water Glass (Sodium Silikat)
3. Industri Korek Api
4. Industri Tepung Silica
5. Industri Bleaching Earth (Tanah Pemucat)
6. Industri Soda Kostik/ Gas Khlor
7. Industri Pelapisan Logam (Electro Plating)
8. Industri Galvanis, Perabot Enamel dan Logam dengan Pembersihan Karat (Pickling)
9. Penambangan dan Pengolahan Bijih Besi Serta Kegiatan Pendukungnya.
10. Industri Keramik
11. Penambangan dan/atau Pengolahan Bijih Emas dan Tembaga.
12. Peleburan dan Pengolahan Emas dan Tembaga.
13. Industri Baterai Kering
14. Industri Baterai Basah
15. Pertambangan dan Pengolahan Bijih Nikel
16. Industri Pengolahan Pasir Besi

C. Kegiatan Usaha Lainnya
1. Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Peternakan Sapi, Babi dan Unggas
2. Baku Mutu Air Limbah bagi Kegiatan Rumah Potong Hewan
3. Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Cuci Kendaraan Bermotor
4. Baku Mutu Air Limbah Domestik [Permukiman (Real Estate), Rumah Makan (Restoran), Perkantoran, Perniagaan, Apartemen, Perhotelan dan Asrama]
5. Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Obat Tradisional/Jamu
6. Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Rumah Sakit
7. Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap
8. Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Laundry
9. Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kelapa
10. Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Jamur
11. Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Laboratorium Klinik

D. Kawasan Industri
E. Kegiatan Industri Lain

Sumber: blh.jatimprov.go.id

Logam Berat di Dalam Air Limbah, part 2: Metode Penyisihan

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai jenis, dampak, serta cara anilisis logam berat di dalam pengolahan air limbah. Setelah mengetahui dampak dari keberadaan logam berat, tentunya perlu ada upaya-upaya untuk menyisihkan logam berat dari dalam air limbah. Logam berat dapat disisihkan antara lain melalui pengendapan, ion exchange, koagulasi, reverse osmosis, cementation, adsorpsi, elektrokoagulasi, dan electrowinning (A. Basyal et.al., 2013). Di dalam postingan kali ini akan dipaparkan mengenai metode-metode tersebut dengan pembahasan yang lebih mendalam pada metode pengendapan.

1. Pengendapan

Penyisihan logam berat dengan metode pengendapan dapat menurunkan konsentrasi logam berat di dalam air limbah hingga kisaran ppm (A. Basyal et.al., 2013). Logam berat dapat diendapkan dlm bentuk hidroksida, sulfida, dan karbonat. Persamaan umum pengendapan logam menggunakan hidroksida adalah sebagai berikut:

Mn+ + nOH ? M(OH)n

Senyawa yang paling sering digunakan untuk membentuk endapan hidroksida yaitu NaOH dan Ca(OH)2. Hal yang perlu diperhatikan saat akan menggunakan metode pengendapan hidroksida yaitu pH dan senyawa pengompleks. Logam-logam sulfida memiliki kelarutan yang sangat kecil. Pengendapan logam berat dalam bentuk sulfida dapat dilakukan dengan penambahan S2- (ion sulfida). Ion sulfida menjadi dominan pada kisaran pH 14. Oleh sebab itu, pengendapan sulfida selalu dilakukan dalam kondisi basa. Apabila kondisi ini tidak dipenuhi, maka yang akan dominan adalah H2S. Seperti kita ketahui, senyawa ini mengeluarkan bau busuk serta bersifat racun. Berbeda dengan pengendapan hidroksida, pengendapan menggunakan sulfida tidak terganggu oleh adanya senyawa kelat (chelating agent). Logam-logam berat yang biasa diendapkan dengan pengendapan karbonat yaitu timbal, cadmium, dan nikel (Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters). Pengendapan karbonat terjadi pada pH di atas 10 karena ion karbonat (CO32-) hanya hadir pada pH yang tinggi.

Gambar berikut ini menunjukkan hubungan antara pH dengan kelarutan logam berat di dalam air.

Kelarutan Logam Hidroksida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)
Kelarutan Logam Hidroksida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)
Kelarutan Logam Sulfida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)
Kelarutan Logam Sulfida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)

Tabel 1. Rangkuman Pengendapan Beberapa Jenis Logam Berat (dirangkum dari Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)

table

2. Ion Exchange

Metode ion exchange banyak diaplikasikan di industri karena memiliki keunggulan untuk menghasilkan efluen hingga berada rentang ppb serta mampu mengolah dalam volume yang besar (A. Basyal et.al., 2013). Kekurangannya adalah selain mahal dan sangat selektif pada pH larutan, ion exchange juga kurang sesuai untuk menangani ion-ion dengan konsentrasi sangat tinggi karena dapat menyebabkan penyumbatan pada resin (A. Basyal et.al., 2013)

3. Koagulasi

Pada proses penyisihan logam berat dengan koagulasi, dilakukan penambahan zat kimia yang berfungsi sebagai koagulan.

4. Reverse osmosis

Reverse osmosis merupakan proses pengolahan menggunakan membran yang diberi tekanan osmotik. Membran yang digunakan memiliki ukuran celah < 0,001 µm. Karena memanfaatkan membran dengan bukaan celah yang sangat kecil, perlu dilakukan pengolahan pendahuluan agar partikel berukuran besar dapat disisihkan terlebih dahulu sehingga membran tidak mudah jenuh.

5. Cementation

Cementation yaitu metode pengendapan logam melalui mekanisme elektrokimia, dimana logam yang memiliki potensial oksidasi lebih tinggi akan melewati suatu larutan untuk menggantikan logam dengan potensial oksidasi yang lebih rendah (A. Basyal et.al., 2013).

6. Adsorpsi

Adsorpsi yaitu proses penempelan senyawa yang terlarut pada suatu permukaan. Contoh yang paling umum yaitu dengan menggunakan karbon aktif. Proses adsorpsi juga merupakan salah satu mekanisme di dalam biosorption (silakan lihat artikel mengenai biosorption).

7. Elektrokoagulasi

Proses elektrokoagulasi memanfaatkan arus listrik untuk menyisihkan logam berat dari dalam air limbah (A. Basyal et.al., 2013). Arus listrik memberi gaya elektrik untuk mendorong terjadinya reaksi kimia sehingga ion-ion yang terdapat di dalam cairan akan bergerak kea rah kestabilan yang umumnya berwujud padat (awwtinc.com).

8. Electrowinning

Electrowinning yaitu proses electroplating yang digunakan untuk menghilangkan ion-ion logam dari larutan konsentrat (pprc.org). Metode ini banyak digunakan di industri metalurgi dan pertambangan (A. Basyal et.al., 2013)

Sumber:

* Asli Baysal, Nil Ozbek and Suleyman Akman (2013). Determination of Trace Metals in Waste Water and Their Removal Processes, Waste Water – Treatment Technologies and Recent Analytical Developments, Prof. Fernando Sebastián García Einschlag (Ed.), ISBN: 978-953-51-0882-5, InTech, DOI: 10.5772/52025.

* Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters  (diakses 6 Agustus 2014)

* http://www.awwtinc.com/electrocoagulation-process.php (diakses 22 September 2014)

* http://www.pprc.org/cpc/workshops/electrowinning.pdf (diakses 22 September 2014)

 

 

Logam Berat di Dalam Air Limbah, part 1: Macam, Dampak yang Ditimbulkan, dan Cara Analisis

Logam berat merupakan parameter yang banyak ditemui di dalam air limbah industri. Logam berat yang umum ditemui di dalam air limbah antara lain arsenik, timbal, merkuri, kadmium, kromium, zink, tembaga, perak, dan nikel. Beberapa sumber utama logam berat di dalam air limbah dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Logam Berat dan Industri yang Menjadi Sumbernya

Logam Berat Industri Sumber Referensi
Arsenik Peleburan logam, industri pestisida dan fungisida H.K. Alluri et.al., 2007
Timbal Industri cat, pestisida, pembakaran batu bara, pertambangan H.K. Alluri et.al., 2007
Merkuri Industri pestisida, baterai, kertas H.K. Alluri et.al., 2007
Kadmium Pengelasan, electroplating, industri baterai, instalasi fisi nuklir H.K. Alluri et.al., 2007
Kromium Industri otomotif, pelapisan logam, pewarna tekstil Metcalf & Eddy, 2004
Zink Industri pelapisan logam, pembuatan kuningan, penyulingan H.K. Alluri et.al., 2007
Tembaga Industri pelapisan logam, pembuatan kawat tembaga, industri cat, pengawetan kayu A. Basyal et.al., 2013
Perak Produksi perak nitrat dan perak bromide, industri elektronik, industri logam Metcalf & Eddy, 2004
Nikel Industri pembuatan kapal, otomotif, industri elektronik, industri kimia A. Basyal et.al., 2013

 

Logam berat yang terbawa ke perairan dapat mengalami bioakumulasi di dalam tubuh makhluk hidup. Melalui rantai makanan, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Karena sifat bioakumulasi tersebut, apabila manusia memakan makanan yang berasal dari perairan yang tercemar logam berat, maka konsentrasi tertinggi logam berat akan ada di tubuh manusia. Konsentrasi logam berat yang berlebihan di dalam tubuh sangat berbahaya karena dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Ingat kasus keracunan merkuri di Minamata yang sangat menyedihkan dan berbagai kasus lainnya terkait logam berat!

Bioakumulasi Logam Berat (Sumber: mercuryinschools.uwex.edu)
Bioakumulasi Logam Berat (Sumber: mercuryinschools.uwex.edu)

 

 

Mekanisme Logam Berat Di Dalam Rantai Makanan
Mekanisme Logam Berat Di Dalam Rantai Makanan (Sumber: http://fanaticcook.blogspot.com)

Keberadaan logam berat di dalam air limbah menjadi perhatian karena pada konsentrasi yang tinggi logam berat bersifat toksik. Di dalam instalasi yang memanfaatkan proses pengolahan secara biologi, keberadaan logam berat dalam konsentrasi tinggi menjadi musuh bagi reaktor. Toksisitas logam berat dapat mengganggu metabolisme bakteri di dalam reaktor sehingga otomatis kinerja reaktor juga akan terganggu. Jika konsentrasi logam berat tidak diperhatikan, bukan hanya terancam tidak lolos baku mutu air limbah, biaya dan waktu yang diperlukan untuk pemulihan reaktor juga tidak sedikit.

Analisis konsentrasi logam berat di dalam air limbah dapat dilakukan dengan bermacam cara antara lain AAS, ICP, LIBS, dan ASV. Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing metode yang dikutip dari Determination of Trace Metals in Waste Water and Their Removal Processes:

1. Atomic Absorption Spectrometry (AAS)

Di dalam pengujian AAS sendiri terdapat beberapa metode berdasarkan teknik atomisasi logam. Teknik-teknik tersebut yaitu pembakaran (flame, FAAS), graphite furnace (GFAAS), hidrida, atau uap dingin (cold vapour). Pengukuran dengan teknik FAAS dan GFAAS dapat digunakan untuk hampir semua jenis logam berat. Bedanya adalah pada FAAS batas pengukuran adalah rentang ppm sementara GFAAS dapat menganalisis rentang yang lebih kecil hingga ppb. Teknik hidrida digunakan untuk menganalisis logam-logam seperti arsenic, antimony, selenium, timah, bismuth, dan timbal pada fasa uapnya. Teknik cold vapour digunakan untuk analisis logam merkuri dengan rentang pengukuran pada besaran ppb.

2. Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES)

ICP merupakan metode pengukuran logam berat yang menggunakan plasma untuk mengeksitasi atom-atom di dalam sampel. Pada ICP-OES, atom yang tereksitasi mengemisikan cahaya pada panjang gelombang tertentu dan kemudian intensitas cahaya yang sebanding dengan konsentrasi elemen tersebut diukur dengan detektor. Pengukuran dengan ICP memiliki keunggulan yaitu kemampuannya untuk analisis multi-elemen. Dengan demikian, berbagai komponen logam berat dari satu sampel dapat dianalisis sekaligus dalam waktu yang sangat singkat (dalam hitungan menit).

3. Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS)

Pada ICP-MS, atomisasi dilakukan menggunakan plasma kemudian ion dideteksi menggunakan mass spectrometer. Perbandingan antara metode AAS dan ICP dapat dilihat pada tabel.

Tabel 2. Perbandingan Metode AAS dan ICP

  FAAS GFAAS ICP-OES ICP-MS
Waktu analisis ++ + +++ +++
Harga instrumen +++ ++ ++ +
Analisis sampel berupa solids (padatan) +++
Biaya operasional + ++ ++ ++
Batas pengukuran + ++ ++ +++
Ketelitian +++ + ++ ++

– Tidak dapat dipenuhi, + Buruk, ++ Medium, +++ Baik

 

4. Laser Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS)

Metode analisis dengan LIBS sebanrnya lebih sesuai untuk sampel yang berbentuk padatan. Pada metode ini digunakan denyut laser berenergi tinggi sebagai sumber eksitasi.

5. Anodic Stripping Voltammetry (ASV)

Metode ASV terdiri dari dua tahapan yang dimulai dengan proses penjenuhan konsentrasi logam melalui electroplating ke suatu elektroda di dalam larutan. Tahapan selanjutnya adalah pelepasan ion-ion logam dari elektroda yang mana proses ini akan menghasilkan arus yang dapat diukur. Adanya penjenuhan konsentrasi logam di tahap pertama memungkinkan pengukuran logam pada konsentrasi yang sangat rendah hingga kisaran ppb bahkan ppt (www2.chemistry.msu.edu).

Sumber:

* H.K. Alluri et.al., « Biosorption: An eco-friendly alternative for heavy metal removal”, African Journal of Biotechnology, vol. 6 (25) (pp. 2924-2931), 28 December 2007.

* Metcalf and Eddy, 2004, Wastewater Engineering 4th edition, McGraw Hill International Editions, New York.

* Asli Baysal, Nil Ozbek and Suleyman Akman (2013). Determination of Trace Metals in Waste Water and Their Removal Processes, Waste Water – Treatment Technologies and Recent Analytical Developments, Prof. Fernando Sebastián García Einschlag (Ed.), ISBN: 978-953-51-0882-5, InTech, DOI: 10.5772/52025.

* https://www2.chemistry.msu.edu/courses/cem837/Anodic%20Stripping%20Voltammetry.pdf (diakses 5 September 2014)

Say Hello to The Green Green Grass In Wastewater Treatment

Mungkin sebagian pembaca akan ingat dengan lagu dari era 1960-an kalau melihat judul di atas (baca: Green Green Grass of Home). Sebaliknya, saya teringat manfaat rumput-rumputan dan kaitannya dengan air limbah ketika mendengar lagu tersebut beberapa waktu lalu. Apa saja hubungan rumput dengan pengolahan air limbah? Yuk kita simak di artikel ini.

 

Kamar Mandi Berumput untuk Mendaur Ulang Air Bekas Mandi

Sumber: www.treehugger.com

Sebuah desain kamar mandi yang sangat menarik oleh Jun Yasumoto , Alban Le Henry, Olivier Pigasse dan Vincent Vandenbrouck. Konsep yang digunakan adalah memanfaatkan tanaman, yang salah satunya dari kelompok rumput-rumputan, untuk menyaring air kotor di kamar mandi. Air kotor yang dimaksud bersumber dari air bekas mandi dan wastafel.

 

Pemanfaatan Vetiver Dalam Mengolah Air Limbah

Pada artikel mengenai wetland (Wastewater Treatment Plant On My Backyard?Yuk, Berwisata di “Taman” Pengolahan Limbah!, Reaktor Pertumbuhan Lekat – Aerob, dan Stormwater…Apa Sih?) telah disebutkan bahwa tanaman-tanaman tertentu memiliki kemampuan yang sangat baik untuk menyaring polutan dari dalam air limbah. Dari jenis rumput-rumputan terdapat vetiver. Vetiver atau akar wangi sudah dikenal cukup lama di Indonesia karena mengandung minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku wewangian. Di samping itu, akar wangi juga digunakan sebagai bahan baku produk-produk kerajinan tangan. Ternyata, vetiver juga memiliki manfaat besar di dalam pengolahan air limbah. Tanaman ini disukai karena memiliki kemampuan penyerapan air yang sangat tinggi, tahan terhadap bahan-bahan kimia pertanian, serta mampu menyerap logam berat dan nutrien terlarut dari dalam air limbah (Ash & Truong, 2003).

Salah satu aplikasinya adalah dalam mengolah efluen dari kolam pengolahan air limbah domestik di salah satu daerah di tenggara Queensland, Australia. Pengolahan dengan vetiver ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama yaitu tahapan pendahuluan dengan cara memasang ponton yang berisi vetiver serta penanaman vetiver di sekeliling kolam. Tahapan berikutnya adalah pengolahan sistem wetland berkontur yang ditanami dengan vetiver. Penanaman vetiver secara hidroponik pada kolam (dengan sistem ponton) bertujuan untuk mengurangi konsentrasi nutrien di dalam kolam pengolahan agar terhindar dari algal blooming. Kombinasi dua tahapan pengolahan dengan vetiver ini mampu menyisihkan ammonia hingga lebih dari 90%, total nitrogen hingga 66.5%, dan total fosforus hingga 86% (Ash & Truong, 2003).

Ponton Vetiver

 

Rumput Benggala (panicum maximum)

Selain vetiver, tanaman dari kelompok rumput-rumputan yang dapat dimanfaatkan untuk pengolahan air limbah adalah rumput benggala. Tanaman yang banyak digunakan sebagai pakan ternak ini bersifat tahan terhadap musim kering dan mampu hidup di daerah dengan sinar matahari yang tidak terlalu tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Cavan dan Dhulap (2012) memanfaatkan rumput benggala untuk mengolah limbah domestik.

 

Padang Golf Sebagai Tempat Untuk Daur Ulang Air Limbah

Salah satu fasilitas yang dimiliki oleh banyak kawasan industri di Indonesia adalah padang golf. Untuk kenyamanan dan keindahan, tanaman di padang golf (dengan porsi terbesar berupa rumput tentunya) harus dirawat sedemikian rupa. Salah satunya adalah dengan penyiraman. Untuk menjamin ketersediaan air yang diperlukan untuk menyiram rerumputan, dapat digunakan efluen hasil pengolahan limbah yang berasal dari indutri-industri di kawasan tersebut. Jika padang golf terletak di daerah perumahan yang memiliki IPAL terpusat maka efluen pengolahan limbah domestik dapat dimanfaatkan.

Sumber:

* Ash, R., & Truong, P. (2003, October). The use of Vetiver grass wetlands for sewerage treatment in Australia. In Proceedings of 3rd International Conference on Vetiver, Guangzhou, China (pp. 132-141).

* Chavan, B. L., & Dhulap, V. P. (2012). Sewage treatment with constructed wetland using panicum maximum forage grass. Journal of Environmental Science and Water Resources, Wudpecker Research Journals. Accepted for Publication.

Pengolahan Air Limbah dari Wet Scrubber untuk Proses Flue Gas Desulfurization

Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu emisi penting di instalasi pembangkit listrik (power plant) tenaga batubara. Salah satu cara yang digunakan untuk menurunkan konsentrasi SO2 dari gas buang (flue gas) atau dikenal dengan flue gas desulfurization (FGD) adalah menggunakan wet scrubber. Metode pengolahan gas buang yang satu ini terutama diaplikasikan pada emisi dengan kandungan sulfur yang tinggi. Di satu sisi, wet scrubber dapat mengatasi polusi udara dengan cara menurunkan kandungan SO2 dari dalam gas buang. Akan tetapi, di sisi lain metode penyisihan polutan udara ini menghasilkan limbah cair yang harus diolah.

Limbah cair yang dihasilkan dari proses FGD dengan wet scrubber bersifat asam dan memiliki kandungan CaSO4 yang sangat tinggi. Di samping itu juga mengandung TDS, TSS, logam berat, klorida, dan zat organik terlarut yang tinggi. Pengolahan limbah cair dari wet scrubber sebaiknya dilakukan di sistem tersendiri, tidak digabung dengan instalasi pengolahan limbah eksisting di power plant. Alasan pemisahan sistem pengolahan antara lain karena:

  • Kapasitas yang dimiliki oleh IPAL eksisting kemungkinan tidak memadai
  • Material konstruksi yang dimiliki umumnya tidak sesuai untuk limbah dengan karakteristik klorida yang tinggi
  • Desain proses pada IPAL eksisting kemungkinan tidak sesuai untuk memenuhi kebutuhan pengolahan air limbah dari wet scrubber

Pengolahan air limbah yang diperlukan tergantung pada karakteristik limbah yang dihasilkan dan akan berbeda dari satu power plant dengan yang lainnya. Skema berikut ini merupakan tahapan umum pengolahan limbah cair dari wet scrubber untuk proses FGD.

Sumber: www.water.siemens.com

Kombinasi antara pengolahan fisik-kimia yang terdiri dari proses presipitasi, koagulasi, pengendapan, dan filtrasi merupakan yang paling umum dipakai. Rangkaian proses dimulai dari peningkatan pH menjadi 8.5-9.2 untuk memungkinkan terjadinya pengendapan logam-logam utama seperti aluminium, besi, dan mangan. Zat kimia yang biasa ditambahkan untuk menaikkan pH adalah kalsium hidroksida (Ca(OH)2) atau natrium hidroksida (NaOH). Untuk mengendapkan logam-logam sulfida, dilakukan penambahan organosulfida. Penambahan koagulan bertujuan untuk meningkatkan performa pengendapan. Tahapan selanjutnya setelah pengendapan adalah netralisasi menggunakan asam klorida (HCl). Setelah itu, jika diperlukan, dapat dilakukan proses filtrasi untuk menghasilkan air olahan dengan kandungan suspended solids yang rendah. Air hasil backwash pada proses filtrasi diresirkulasi ke hulu sistem.

Sumber: www.water.siemens.com (Treating FGD Wastewater: Phase 2 Clean Air Act Amendments Make It Hot Topic, by Brian Heimbigner), diakses 26 Maret 2014

Baku Mutu Air Limbah Propinsi Jawa Tengah

Perda Jateng Nomor 10 Tahun 2004 ini mengatur tentang baku mutu air limbah untuk Propinsi Jawa Tengah. Kegiatan yang termasuk di dalam Perda ini antara lain:

  1. Industri bihun dan soun
  2. Industri bir dan minuman beralkohol
  3. Industri biskuit dan roti (bakery)
  4. Industri cat dan tinta
  5. Industri pembekuan hasil perikanan (cold storage)
  6. Industri etanol
  7. Industri farmasi
  8. Industri meubel (furniture)
  9. Industri lem
  10. Industri asam glutamat dan monosodium glutamat
  11. Industri gula
  12. Industri jamu
  13. Industri kacang garing
  14. Industri kayu lapis dan papan partikel (particle board)
  15. Industri kecap
  16. Industri keramik dan ubin
  17. Industri kertas
  18. Industri makanan spesifik (mie, kopi, permen, bumbu mie, dan makanan kecil)
  19. Industri minuman ringan
  20. Industri minyak goreng
  21. Industri pelapisan logam
  22. Industri pengalengan buah dan sayur
  23. Industri penyamakan kulit
  24. Industri pengalengan ikan dan kerang-kerangan
  25. Industri rumah pemotongan hewan
  26. Industri sabun dan deterjen
  27. Industri saos
  28. Industri sirup
  29. Industri sodium siklamat
  30. Industri susu dan produk dari susu
  31. Industri tahu dan tempe
  32. Industri tapioka
  33. Industri tekstil dan batik
  34. Hotel
  35. Rumah sakit

Peraturan ini juga menetapkan baku mutu air limbah untuk kegiatan industri maupun usaha lainnya yang belum ada baku mutunya. Nah, semoga informasi ini bermanfaat bagi pembaca yang sedang mencari baku mutu air limbah di Propinsi Jawa Tengah maupun mereka yang memerlukan referensi.

Sumber:

http://hukum.unsrat.ac.id (diakses tanggal 3 November 2012)

Pencemaran Air Limbah Industri Konveksi dan Usaha Sablon

Bukan hanya industri besar saja yang perlu kita pantau soal pencemaran dari air limbahnya. Industri kecil maupun usaha rumahan juga tak kalah penting. Apalagi, biasanya industri seperti ini sifatnya terkonsentrasi di suatu wilayah, berjumlah cukup banyak, dan sangat minim dalam hal instalasi untuk mengolah air limbahnya (bahkan tidak sama sekali).

Salah satu contoh kasus adalah yang terjadi di daerah Tambora, Jakarta Barat. Di daerah ini ditemukan selokan di tengah-tengah pemukiman penduduk yang berwarna-warni akibat pembuangan air limbah usaha sablon. Tidak hanya merugikan penduduk di sekitar lokasi usaha, pencemaran ini pun memberikan dampak lingkungan yang lebih luas. Pasalnya, saluran air yang menjadi tempat pembuangan limbah tersebut diteruskan ke Kali Cibubur.

Para pelaku usaha membuang air limbahnya ke selokan karena memang belum tersedia sarana untuk mengelola limbah tersebut. Hmmm, mungkin sebaiknya pemerintah daerah atau badan lingkungan hidup setempat campur tangan dalam hal ini. Barangkali masyarakat di daerah tersebut belum dibekali penyuluhan mengenai  pengelolaan air limbah yang baik, atau memerlukan bantuan dalam desain maupun pembuatan instalasi pengolahan limbahnya.

Rekan-rekan pembaca ada ide untuk pengelolaan air limbah industri kecil/usaha rumahan seperti ini? Atau ada yang punya pengalaman yang bisa dibagi? Silakan sampaikan di comment box!

Sumber: Republika online (29 April 2012)

Untuk berita lengkap, silakan klik di sini

 

 

Minimasi Produksi Air Limbah pada Industri Pengolahan Pangan

Industri pengolahan pangan (food processing industry) mengkonsumsi air dalam jumlah sangat besar dalam kegiatannya, mulai dari proses produksi, pembersihan alat-alat produksi, hingga aktivitas di luar kegiatan produksi. Selain memerlukan biaya yang besar untuk kebutuhan air, aktivitas di industri ini juga “menyumbangkan” polutan ke lingkungan berupa kadar BOD yang tinggi di dalam air limbahnya. Kali ini saya akan sharing salah satu studi kasus yang terjadi di salah satu industri pengolahan pangan di Amerika Serikat, The Equity Group,  mengenai cara yang mereka tempuh dalam mengurangi produksi air limbah mereka.

Konsep Program Pencegahan Polusi -Pollution Prevention Program, PPP

Penanganan masalah limbah di dalam pabrik dilakukan dengan melaksanakan program pencegahan polusi atau Pollution Prevention Program (PPP). Langkah-langkah yang ditempuh antara lain:

  1. Pembinaan dalam hal penggunaan air
  2. Pemantauan pabrik dan mencari tahu tempat-tempat yang bermasalah
  3. Evaluasi proses di dalam pabrik
  4. Promosi teknik pembersihan tanpa air (dry cleanup)
  5. Pembaruan serta pemanfaatan limbah
  6. Peningkatan kinerja pengolahan pendahuluan limbah

Edukasi mengenai pemakaian air sangat penting baik bagi kalangan manager maupun karyawan. Tanpa edukasi yang baik, tidak akan ada upaya konservasi air yang berakibat pada peningkatan volume air limbah. Para manager atau supervisor merupakan sosok yang dapat menjadi contoh bagi bawahannya. Karyawan akan cenderung lebih termotivasi apabila atasan mereka berkomitmen tinggi dalam langkah reduksi penggunaan air. Terkadang fasilitas pendukung juga diperlukan untuk pelaksanaan program ini, misalnya keran air yang menggunakan sensor atau toilet yang kapasitas tangki airnya tidak terlalu besar.

Salah satu cara untuk mengurangi produksi air limbah di dalam pabrik adalah dengan  cara memantau proses  yang terjadi dari hulu ke hilir untuk mengetahui lokasi mana saja yang menghasilkan air limbah. Dari hasil pemantauan yang dilakukan di Equity Group, diperoleh hasil bahwa lebih dari separuh limbah yang dihasilkan berasal dari kegiatan pembersihan dengan metode basah (wet cleanup). Limbah yang berupa adonan, tepung, potongan daging, darah, lemak, dan bongkahan daging dibuang ke saluran air limbah (drain). Metode yang disarankan adalah memisahkan limbah padatan dari limbah yang berbentuk liquid untuk kemudian dilakukan pembersihan dengan metode kering (dry cleanup). Selain itu, dalam pemantauan proses di Equity Group ditemukan kebiasaan para pekerja yang selalu menyiram bermacam limbah , baik cair maupun padat, ke saluran air limbah.

Langkah yang ditempuh Equity Group adalah dengan cara mempromosikan teknik dry cleaning, yaitu membersihkan tumpahan yang berupa padatan di lantai tanpa menggunakan air. Setelah semua padatan disingkirkan, barulah lantai dibersihkan dengan air. Ternyata, dengan metode seperti ini beban BOD5 di dalam air limbah mereka dapat berkurang hingga 50 persen. Limbah padat yang pada mulanya dibuang ke saluran limbah cair, dikirim ke salah satu perusahaan di Atlanta untuk dimanfaatkan sebagai pakan hewan. Inspeksi peralatan produksi pun penting dilakukan, karena apabila kondisinya tidak optimal (peralatan using, rusak, maupun bocor)maka dapat menjadi penyebab terjadinya tumpahan-tumpahan yang tidak semestinya.

Metode pengelolaan air dan limbah di Equity Group tidak hanya mengurangi beban pencemaran air limbah mereka, namun juga berdampak pada cost yang harus dikeluarkan. Biaya tambahan yang dikeluarkan untuk penanganan limbah menurun dari rata-rata US$ 11,000 hingga US$ 39 per bulannya. Untuk menjamin keberlangsungan hal ini, perlu dilakukan pemantauan program secara berkala antara lain dengan training bagi karyawan baru serta melakukan penilaian terhadap karyawan lama.

Nah, semoga artikel tersebut bermanfaat dan dapat menjadi referensi untuk mengelola limbah di industri tempat Anda bekerja!

Sumber : www.bae.ncsu.edu/programs/extension/publicat/wqwm/cd35.html (diakses tanggal 9 Desember 2011)

Minimasi Produksi Air Limbah Pada Industri Mesin dan Fabrikasi Logam

Berikut ini adalah artikel mengenai minimasi produksi air limbah di industri mesin dan fabrikasi logam. Mulai dari aktivitas berikut potensi limbah yang dihasilkan, cara meminimasi produksi air limbah untuk aktivitas tersebut, hingga langkah umum untuk mengurangi produksi air limbah. Jenis aktivitas yang saya berikan di sini hanyalah sebagai contoh dan dapat berbeda antara satu pabrik dengan yang lainnya. Tabel di bawah ini menyajikan aktivitas-aktivitas yang menghasilkan air limbah serta polutan yang terkandung di dalamnya.

Aktivitas

Polutan

Proses pembersihan dengan cairan pembersih O&G, larutan pembersih, suspended solids, tanah yang menempel pada peralatan, dissolved solids
Pembersihan area pabrik O&G, suspended solids, larutan pembersih
Aktivitas boiler & blowdown Panas, suspended solids, dissolved solids
Air pendingin Panas,bahan pembersih kerak dan karat, dissolved solids
Alat pengendali pencemaran udara Garam, suspended solids, dissolved solids
Aktivitas pengerjaan logam Pelumas logam, O&G, suspended solids, logam
Cutting & blasting O&G, suspended solids, logam
Deburring dan mass finishing O&G, suspended solids, logam

O&G = oil & grease (atau minyak & lemak)

Bagaimana Cara Mengurangi Produksi Air Limbahnya?

1. Cleaning and Rinsing (Proses Pembersihan dan Pembilasan)

Dalam pelaksanaan cleaning & rinsing terdapat prinsip yang dikenal dengan “W.A.T.C.H principle”, yaitu Water-Action-Time-Chemical-Heat. Komponen-komponen di dalam prinsip WATCH ini terintegrasi dan diperlukan dalam pelaksanaan proses cleaning & rinsing.

Water

Water, atau air, merupakan pelarut universal dan digunakan hamper pada setiap aktivitas pembersihan maupun pembilasan. Banyaknya air yang digunakan, tekanan air yang diaplikasikan, serta jenis nozzle yang dipakai akan mempengaruhi banyaknya air limbah yang terbentuk maupun force (gaya) yang diberikan pada permukaan yang akan dibersihkan.

Action

Action merupakan gaya fisik yang diberikan pada permukaan untuk menghilangkan kotoran dari permukaan tersebut. Action yang dimaksud di sini dapat berasal dari proses pembersihan manual maupun dengan bantuan mesin. Optimalisasi action dapat mengurangi jumlah air yang digunakan. Dengan demikian, air limbah yang dihasilkan pun akan berkurang.

Time

Pada prinsip WATCH, time (waktu) biasanya diminimalisasi dengan cara memodifikasi komponen lainnya. Contoh-contoh pertimbangan yang menyangkut komponen time antara lain lamanya proses pembersihan suatu alat, pengaruh waktu terhadap proses produksi, penggunaan timer untuk mengingatkan operator agar dapat memulai langkah selanjutnya.

Chemical

Jenis dan konsentrasi chemical (bahan kimia) yang digunakan sangat mempengaruhi efektif atau tidaknya proses pembersihan.

Heat

Pengaruh heat (panas) adalah dalam meningkatkan efektivitas pada proses pembersihan. Dengan meningkatnya temperatur, maka efektivitas larutan pembersih dapat meningkat. Dengan demikian, aplikasi temperatur yang tepat dapat mengurangi pemakaian larutan pembersih sehingga jumlah air limbah yang dihasilkan pun akan berkurang.

Selain optimalisasi komponen-komponen dalam “WATCH principles”, alternatif lain juga dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas proses cleaning & rinsing sekaligus meminimalisasi produksi air limbah. Alternatif tersebut antara lain:

  • Menggunakan teknik pembilasan aliran balik, dimana air bersih dialirkan dari tangki paling bersih ke tangki paling kotor.
  • Mengurangi drag-out atau terbawanya air setelah proses pembilasan misalnya dengan cara menambah waktu penirisan, mengurangi waktu pengangkatan material yang dibilas dari tangki, dll
  • Memberi agitasi untuk meningkatkan efisiensi pembilasan
  • Menggunakan bahan pembersih alternatif, misalnya CO2 atau baking soda (bikarbonat)

2. Aktivitas Boiler & Blowdown

Salah satu cara mengurangi boiler blowdown (yang membawa serta solids) adalah dengan cara meminimasi produksi uap, jika memungkinkan. Apabila kualitas feedwater yang digunakan di dalam boiler sudah cukup tinggi (misalnya deionized water), maka penambahan bahan kimia untuk mengontrol pH dan korosi akan berkurang. Cara lain mengurangi terbentuknya air limbah dari aktivitas blowdown adalah dengan memompakan boiler blowdown ke tangki pengumpul menara pendingin. Perlu diingat, menara pendingin harus memiliki kapasitas yang memadai untuk mengatasi beban panas lebih untuk aplikasi ini.

3. Cooling Water

Untuk sistem yang once-through, cara penghematan air yang juga dapat mengurangi produksi air limbah adalah dengan menggunakan kembali air pendingin untuk keperluann lain (membersihkan lantai, pembilasan, menyiram tanaman, menggunakannya kembali untuk proses pendinginan lainnya).

4. Alat Pengendali Pencemaran Udara

Alat pengendali pencemaran udara yang menghasilkan limbah cair yaitu wet scrubber. Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi produksi air limbah antara lain mengurangi aliran ke scrubber hingga batas minimum yang diperbolehkan atau mengganti proses pengendalian pencemaran udara dengan proses kering. Tentu saja, mengurangi pembentukan polusi udara merupakan pilihan yang paling baik.

5. Aktivitas Pengerjaan Logam

Program pengelolaan yang baik akan memperpanjang usia pakai pelumas logam dan memberi efek positif baik dari segi ekonomis maupun lingkungan.

6. Cutting & Blasting

Untuk mengurangi produksi air limbah, air yang digunakan untuk proses pemotongan difilter terlebih dahulu sehingga dapat digunakan kembali untuk proses berikutnya. Logam yang terlarut dapat disisihkan menggunakan ion exchange.

7. Deburring & Mass Finishing

Air yang digunakan dalam proses deburring dan mass finishing dapat digunakan kembali setelah melalui proses purifikasi yang sederhana (misalnya pengendapan, penyaringan, skimming, flotasi, dll).

 Teknik Mengurangi Produksi Air Limbah

Secara umum, produksi air limbah di dalam suatu kegiatan industri dapat dikurangi dengan melakukan beberapa langkah antara lain:

  • Mengeliminasi proses; apakah proses tertentu benar-benar dibutuhkan atau dapat dihilangkan
  • Mengeliminasi penggunaan air
  • Mengurangi penggunaan air
  • Mendaur ulang atau menggunakan kembali air
  • Memakai air bekas pakai dari proses yang lain

 

Semoga informasi tersebut bermanfaat dan memberi pengetahuan tidak hanya bagi mereka yang berkecimpung di industri logam, tapi juga untuk industri lainnya. Bagaimana dengan tempat kerja Anda? Upaya apa saja yang sudah dilakukan untuk mengurangi produksi air limbah di tempat Anda beraktivitas?

 

Sumber: http://p2pays.org/ref/03/02293.pdf (diakses tanggal 5 Desember 2011)

Aktivitas Pertambangan Mencemari Air Sungai Bengkulu

Berikut ini berita yang saya ambil dari situs republika.co.id terkait masalah pencemaran air Sungai Bengkulu oleh aktivitas pertambangan.
Sungai Bengkulu Tercemar Limbah Batu Bara, Menteri LH Turun Tangan
Selasa, 13 September 2011 10:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU– Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta dijadwalkan meninjau daerah aliran sungai Air Bengkulu yang tercemar limbah batu bara.

“Menteri Lingkungan Hidup akan meninjau langsung kondisi pencemaran Sungai Air Bengkulu sebelum melakukan pertemuan dengan pihak terkait dalam rangka penegakan hukum lingkungan,” kata Asisten II Sekretaris Provinsi Bengkulu Zainal Abidin di Bengkulu, Selasa.

Ia mengatakan, pencemaran Sungai Air Bengkulu akan menjadi salah satu perhatian utama dalam penegakan hukum lingkungan sesuai dengan Undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup.

Kepala BLH Provinsi Bengkulu Iskandar ZE mengatakan pencemaran Sungai Air Bengkulu sudah meresahkan masyarakat, apalagi air sungai tersebut masih digunakan sebagai air baku PDAM Kota Bengkulu. Hingga saat ini tercatat sebanyak 6.000 pelanggan masih mendapat pasokan air PDAM yang bersumber dari air sungai tersebut.

Menurutnya, terdapat sembilan perusahaan tambang batu bara dan perkebunan kepala sawit serta pabrik karet yang diduga kuat sebagai penyumbang limbah terbesar terhadap sungai tersebut.

Namun, dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) perusahaan tersebut diterbitkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan sebagian lainnya dari Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara.

Sebelumnya, Kepala Dinas ESDM Provinsi Bengkulu Surya Gani mengatakan pihaknya akan memeriksa empat perusahaan tambang batu bara yang diduga mencemari Sungai Bengkulu.

Empat perusahaan yang diperiksa aktivitasnya terkait dugaan pencemaran tersebut yakni PT Danau Mas Hitam, PT Inti Bara Perdana, PT Bukit Sunur, dan PT Kesuma Raya. Seluruh perizinan perusahaan tambang tersebut diterbitkan sebelum 1990.

Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara
Isu pencemaran oleh industri pertambangan bukan suatu hal yang baru di Indonesia. Penanganan air limbah dari aktivitas industri ini menjadi sangat penting mengingat banyaknya daerah di Indonesia yang menjadi area industri pertambangan dan berpotensi tinggi untuk menimbulkan pencemaran.
Berdasarkan KepMenLH No. 113 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Pertambangan Batu Bara, terdapat empat parameter yang harus dipenuhi yaitu pH, besi, mangan, dan residu tersuspensi. Air limbah industri pertambangan dikenal dengan istilah acid mine drainage (AMD) alias air asam tambang. Ingin tahu soal AMD? Nantikan postingan berikutnya!