Tag Archives: debit air limbah

Pengukuran Debit : Memilih Flow Meter

Berikut ini beberapa pertimbangan yang dapat digunakan dalam melakukan pemilihan alat ukur debit atau flow meter. Informasi berikut saya susun setelah membaca katalog produk-produk flow meter. Kira-kira poin-poin inilah yang membedakan berbagai tipe flow meter di pasaran.

 

1. Jenis aplikasi (municipal, industri, dsb)

2. Bagaimana flow meter akan digunakan (temporal/permanen, portable/permanen)

3. Jenis saluran yang digunakan (pipa, gorong-gorong, parit, sungai)

4. Bentuk/dimensi pipa

5. Bagaimana cara pengambilan data dari meter (modem, menghubungkan langsung ke laptop, menggunakan display pada meter, dsb)

6. Sumber energi meter (AC, DC, baterai, tenaga surya)

7. Apakah aliran air cenderung jernih atau keruh (konsentrasi solid, ukuran partikel, turbiditas)

8. Temperatur ambien di atas aliran air

9. Perkiraan kondisi aliran (perkiraan debit, kecepatan, kedalaman)

10. Apakah debit berubah secara cepat?

11. Kondisi khusus (pH ekstrim, uap, buih, dsb)

12. Kondisi hidrolis

13. Apakah ada teknologi yang menjadi preferensi (radar, acoustic Doppler, electromagnetic)

14. Harga, pastinya!

 

Daftar tersebut tidaklah mutlak, namun semoga dapat membantu ketika Anda merasa kesulitan untuk menentukan pilihan.

Pengukuran Debit: Berbagai Metode Pengukuran Debit Pada Saluran Terbuka

Pengukuran debit merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam suatu sistem pengelolaan air limbah. Pada artikel yang lalu saya telah menulis postingan mengenai debit air limbah; pentingnya mengukur air limbah serta bermacam istilah debit yang sering digunakan dalam pengolahan air limbah. Di dalam pengolahan air limbah, debit diukur bahkan sebelum memasuki lokasi pengolahan. Saluran yang membawa air limbah dari sumber ke lokasi IPAL kerap merupakan saluran terbuka karena juga menjadi saluran yang membawa air limpasan hujan.

 

Pada prakteknya, terdapat beragam metode yang dapat digunakan untuk mengetahui debit air pada saluran terbuka. Menurut artikel yang saya baca dari flowresearch.com, metode-metode tersebut antara lain:

1. Dilution

Pada metode ini biasanya digunakan tracer berupa fluorescent dye (pewarna berpendar). Tracer ini diteteskan di hulu aliran, kemudian konsentrasinya diukur di hilir.

2. Timed gravimetric

Air dialirkan ke dalam suatu wadah penampung selama waktu tertentu kemudian beratnya ditimbang. Variasi lain dari metode ini adalah dengan menggunakan wadah (container) yang telah diketahui volumenya kemudian dilakukan pengukuran waktu yang diperlukan untuk mengisi penuh kontainer tersebut menggunakan stopwatch. Metode yang cukup sederhana, namun kurang sesuai untuk aliran kontinyu.

3. Weir dan flume

Pada metode ini digunakan struktur hidrolik berupa weir atau flume. Dua struktur hidrolik ini merupakan alat ukur primer, yaitu suatu ambang (penahan) yang memiliki hubungan spesifik antara kedalaman terhadap debit. Debit air yang mengalir dapat ditunjukkan dengan melihat kurva korelasi atau perhitungan matematis berdasarkan ketinggian air yang melewati weir atau flume.

4. Area velocity

Metode ini digunakan apabila penggunaan weir atau flume dirasa kurang praktis atau untuk pengukuran debit sewaktu-waktu. Dengan mengetahui kecepatan aliran rata-rata pada suatu penampang saluran, kemudian dikalikan dengan luas penampang aliran maka akan diperoleh debit air limbah. Hal ini sesuai dengan persamaan Q = A * v, dimana Q merupakan debit air limbah, A merupakan luas penampang aliran, dan v merupakan kecepatan aliran.

5. Persamaan Manning

Pengukuran debit menggunakan persamaan Manning melibatkan beberapa faktor, antara lain luas penampang aliran, kemiringan saluran, dan kekasaran saluran. Kekasaran saluran dinyatakan dengan suatu koefisien kekasaran, yaitu n (koefisien Manning), yang nilainya berbeda-beda untuk tiap saluran.

Debit Air Limbah (Wastewater Flow)

Kali ini saya akan sharing sedikit tentang wastewater flow alias debit air limbah.

Sebenarnya, kenapa sih kita perlu sekali mengetahui debit air limbah?

Menentukan debit air limbah dalam perencanaan suatu sistem pengolahan air limbah sangatlah penting. Debit air limbah merupakan salah satu karakteristik penting dari air limbah yang menjadi penentu sistem yang akan dirancang.

Pertama, jelas bahwa debit air limbah akan menentukan ukuran unit-unit pengolahan yang akan dibangun karena debit merupakan volume per satuan waktu. Dengan mengetahui debit kita bisa memperkirakan volume pengolahan instalasi kita per hari-nya atau per-batch (kalau instalasi dijalankan dengan sistem batch).

Kedua, debit air limbah akan menentukan beban pengolahan. Beban pengolahan yang saya maksud di sini biasa dikenal dengan istilah mass loading rate, yaitu massa polutan per satuan waktu. Cara mengetahui beban pengolahan yaitu dengan mengalikan konsentrasi polutan dengan debit air limbah yang masuk. Nantinya kita akan memperoleh satuan massa per waktu.

Pemantauan debit dan beban dalam pengolahan air limbah sangat penting untuk memastikan sistem masih berjalan sesuai dengan kapasitas desain dan memenuhi tujuan pengolahan.

Bermacam istilah debit air limbah yang digunakan dalam instalasi pengolahan air limbah

Berikut ini adalah jenis-jenis debit air limbah yang biasa dipakai dalam instalasi pengolahan air limbah berikut tujuan pengukurannya. Istilah-istilah ini saya peroleh dari buku Wastewater Engineering 4th edition (Metcalf & Eddy, 2004).

1. Debit harian rata-rata (average daily flow), berguna untuk mengetahui rasio debit dan untuk memperkirakan pemompaan dan biaya pengolahan kimia.

2. Debit jam minimum (minimum hour), berguna untuk mengetahui batas minimum kerja pompa dan rentang terendah flowmeter.

3. Debit harian minimum (minimum day), berguna dalam penentuan ukuran saluran untuk menghindari terjadinya pengendapan solid.

4. Debit bulanan minimum (minimum month), berguna untuk menentukan jumlah minimum unit yang beroperasi saat terjadi aliran minimum serta untuk merencanakan jadwal maintenance instalasi (yang memerlukan shutdown).

5. Debit jam puncak (peak hour), berguna untuk menentukan ukuran fasilitas pemompaan dan saluran air limbah, menentukan ukuran unit-unit pengolahan fisik dan tangki kontak klorinasi, serta untuk perencanaan strategi dalam menghadapi debit yang tinggi.

6. Debit hari maksimum (maximum day), berguna untuk merencanakan ukuran tangki ekualisasi, sistem pemompaan lumpur, dan tangki kontak klorinasi.

7. Debit bulan maksimum (maximum month), berguna untuk pencatatan data dan pelaporan serta untuk menentukan ukuran fasilitas penyimpanan bahan-bahan kimia.