Proses Anaerob

Pengolahan air limbah yang menggunakan proses anaerob banyak sekali dimanfaatkan terutama bagi air limbah dengan kandungan organik yang sangat tinggi. Pada artikel-artikel terdahulu telah dibahas beberapa topik yang berkaitan dengan proses maupun reaktor anaerob. Nah, di artikel kali ini Anda akan menemukan hal-hal yang sifatnya umum namun mendasar dari proses anaerob itu sendiri.

Proses anaerob merupakan suatu proses biokimia dimana reaksinya berlangsung tanpa kehadiran oksigen. Di dalam lingkup pengolahan air limbah, proses anaerob yang dimaksud berkaitan dengan metabolisme mikroorganisme. Berikut ini adalah gambaran umum yang menunjukkan reaksi yang terjadi pada proses anaerob:

Zat organik + mikroorganisme ? CH4 + CO2 + sel baru

Tahapan di dalam proses anaerob

Dalam perjalanan konversi zat organik menjadi hasil akhir metabolisme, terdapat beberapa tahapan yang dilalui. Tahapan-tahapan di dalam proses anaerob ini penting untuk diketahui untuk keperluan monitoring maupun modifikasi proses. Tahapan-tahapan yang dimaksud yaitu hidrolisis, asidogenesis, asetogenesis, dan metanogenesis (Mes, et.al., 2003). Hidrolisis adalah proses dekomposisi senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Asidogenesis, sering juga disebut dengan tahap fermentasi, yaitu proses konversi dari senyawa yang sudah terurai (terhidrolisis) menjadi asam-asam organik volatil (volatile fatty acids, VFA) dan karbondioksida (CO2) (Mes, et.al., 2003). Asetogenesis ialah proses konversi VFA menjadi asetat dan H2(Mes, et.al., 2003). Metanogenesis yaitu proses konversi asetat, CO2, dan H2 menjadi gas metan (CH4)(Mes, et.al., 2003). Skema tahapan pada proses anaerob dapat dilihat pada gambar berikut.

Sumber: Mes, et.al., 2003
Sumber: Mes, et.al., 2003

Jenis-jenis reaktor anaerob berdasarkan temperatur

Berdasarkan temperatur yang digunakan untuk reaksi, reaktor anaerob dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu psikrofilik (rentang temperatur pada 10 – 20 oC), mesofilik (rentang temperatur pada 20 – 40 oC), dan termofilik (rentang temperatur pada 50 – 60 oC) (Mes, et.al., 2003). Pada temperatur yang rendah, proses dekomposisi dan pertumbuhan mikroorganisme berjalan lambat. Oleh sebab itu, akan diperlukan waktu tinggal yang lebih lama di dalam reaktor sehingga reaktor psikrofilik akan memerlukan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan reaktor jenis lainnya (Mes, et.al., 2003).

Mikroba yang berperan pada proses anaerob

Di dalam proses anaerob terdapat beberapa kelompok mikroorganisme yang terlibat. Berikut ini adalah ringkasan mengenai mikroorganisme yang memiliki peranan dalam proses anaerob (Mes, et.al., 2003 dan Cavinato, 2011):

1. Bakteri fermentasi (atau asidogenik)

* mengeluarkan enzim untuk proses hidrolisis

* mengkonversi zat-zat organik terlarut menjadi asam lemak volatil dan alkohol

2. Bakteri asetogenik

* mengubah asam lemak volatil dan alkohol menjadi asam asetat atau hidrogen dan karbondioksida

3. Bakteri metanogenik

* mengggunakan asam asetat atau hidrogen dan karbondioksida untuk memproduksi gas metan

4. Bakteri pereduksi sulfat (Sulfate Reducing Bacteria, SRB)

* mereduksi sulfat menjadi sulfida

* sulfida bersifat racun pada proses anaerob (baca artikel Inhibitor pada Proses Anaerob)

* dominan pada lingkungan dengan konsentrasi sulfat yang tinggi

* berkompetisi dengan bakteri metanogenik pada substrat yang sama

* dapat menghambat terbentuknya gas metan apabila dominan terhadap bakteri metanogenik

Sumber: [2]
Kompetisi Antara SRB dan Bakteri Metanogen (Sumber: Cavinato, 2011)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses anaerob

Laju dan efisiensi dari suatu reaktor anaerob dipengaruhi oleh (Cavinato, 2011)

1. Jenis limbah yang diolah (karakteristik air limbah),

2. Temperatur yang digunakan pada proses,

3. Keberadaan zat-zat toksik,

4. pH dan alkalinitas,

5. Waktu retensi hidrolik, dan

6. Laju pembebanan reaktor.

 

Referensi:

* MES, T.Z.D. de; STAMS, A.J.M. ; ZEEMAN, G. (2003): Chapter 4. Methane production by anaerobic digestion of wastewater and solid wastes. In: REITH, J.H. (Editor); WIJFFELS, R.H. (Editor); BARTEN, H. (Editor) (2003): Biomethane and Biohydrogen. Status and perspectives of biological methane and hydrogen production. , 58-94

* Dr. Christina Cavinato, ANAEROBIC DIGESTION FUNDAMENTALS I Lecture Notes (2011). http://www.valorgas.soton.ac.uk/Pub_docs/JyU%20SS%202011/CC%201.pdf (diakses 26 sept 2014)

Logam Berat di Dalam Air Limbah, part 2: Metode Penyisihan

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai jenis, dampak, serta cara anilisis logam berat di dalam pengolahan air limbah. Setelah mengetahui dampak dari keberadaan logam berat, tentunya perlu ada upaya-upaya untuk menyisihkan logam berat dari dalam air limbah. Logam berat dapat disisihkan antara lain melalui pengendapan, ion exchange, koagulasi, reverse osmosis, cementation, adsorpsi, elektrokoagulasi, dan electrowinning (A. Basyal et.al., 2013). Di dalam postingan kali ini akan dipaparkan mengenai metode-metode tersebut dengan pembahasan yang lebih mendalam pada metode pengendapan.

1. Pengendapan

Penyisihan logam berat dengan metode pengendapan dapat menurunkan konsentrasi logam berat di dalam air limbah hingga kisaran ppm (A. Basyal et.al., 2013). Logam berat dapat diendapkan dlm bentuk hidroksida, sulfida, dan karbonat. Persamaan umum pengendapan logam menggunakan hidroksida adalah sebagai berikut:

Mn+ + nOH ? M(OH)n

Senyawa yang paling sering digunakan untuk membentuk endapan hidroksida yaitu NaOH dan Ca(OH)2. Hal yang perlu diperhatikan saat akan menggunakan metode pengendapan hidroksida yaitu pH dan senyawa pengompleks. Logam-logam sulfida memiliki kelarutan yang sangat kecil. Pengendapan logam berat dalam bentuk sulfida dapat dilakukan dengan penambahan S2- (ion sulfida). Ion sulfida menjadi dominan pada kisaran pH 14. Oleh sebab itu, pengendapan sulfida selalu dilakukan dalam kondisi basa. Apabila kondisi ini tidak dipenuhi, maka yang akan dominan adalah H2S. Seperti kita ketahui, senyawa ini mengeluarkan bau busuk serta bersifat racun. Berbeda dengan pengendapan hidroksida, pengendapan menggunakan sulfida tidak terganggu oleh adanya senyawa kelat (chelating agent). Logam-logam berat yang biasa diendapkan dengan pengendapan karbonat yaitu timbal, cadmium, dan nikel (Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters). Pengendapan karbonat terjadi pada pH di atas 10 karena ion karbonat (CO32-) hanya hadir pada pH yang tinggi.

Gambar berikut ini menunjukkan hubungan antara pH dengan kelarutan logam berat di dalam air.

Kelarutan Logam Hidroksida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)
Kelarutan Logam Hidroksida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)
Kelarutan Logam Sulfida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)
Kelarutan Logam Sulfida (Sumber: Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)

Tabel 1. Rangkuman Pengendapan Beberapa Jenis Logam Berat (dirangkum dari Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters)

table

2. Ion Exchange

Metode ion exchange banyak diaplikasikan di industri karena memiliki keunggulan untuk menghasilkan efluen hingga berada rentang ppb serta mampu mengolah dalam volume yang besar (A. Basyal et.al., 2013). Kekurangannya adalah selain mahal dan sangat selektif pada pH larutan, ion exchange juga kurang sesuai untuk menangani ion-ion dengan konsentrasi sangat tinggi karena dapat menyebabkan penyumbatan pada resin (A. Basyal et.al., 2013)

3. Koagulasi

Pada proses penyisihan logam berat dengan koagulasi, dilakukan penambahan zat kimia yang berfungsi sebagai koagulan.

4. Reverse osmosis

Reverse osmosis merupakan proses pengolahan menggunakan membran yang diberi tekanan osmotik. Membran yang digunakan memiliki ukuran celah < 0,001 µm. Karena memanfaatkan membran dengan bukaan celah yang sangat kecil, perlu dilakukan pengolahan pendahuluan agar partikel berukuran besar dapat disisihkan terlebih dahulu sehingga membran tidak mudah jenuh.

5. Cementation

Cementation yaitu metode pengendapan logam melalui mekanisme elektrokimia, dimana logam yang memiliki potensial oksidasi lebih tinggi akan melewati suatu larutan untuk menggantikan logam dengan potensial oksidasi yang lebih rendah (A. Basyal et.al., 2013).

6. Adsorpsi

Adsorpsi yaitu proses penempelan senyawa yang terlarut pada suatu permukaan. Contoh yang paling umum yaitu dengan menggunakan karbon aktif. Proses adsorpsi juga merupakan salah satu mekanisme di dalam biosorption (silakan lihat artikel mengenai biosorption).

7. Elektrokoagulasi

Proses elektrokoagulasi memanfaatkan arus listrik untuk menyisihkan logam berat dari dalam air limbah (A. Basyal et.al., 2013). Arus listrik memberi gaya elektrik untuk mendorong terjadinya reaksi kimia sehingga ion-ion yang terdapat di dalam cairan akan bergerak kea rah kestabilan yang umumnya berwujud padat (awwtinc.com).

8. Electrowinning

Electrowinning yaitu proses electroplating yang digunakan untuk menghilangkan ion-ion logam dari larutan konsentrat (pprc.org). Metode ini banyak digunakan di industri metalurgi dan pertambangan (A. Basyal et.al., 2013)

Sumber:

* Asli Baysal, Nil Ozbek and Suleyman Akman (2013). Determination of Trace Metals in Waste Water and Their Removal Processes, Waste Water – Treatment Technologies and Recent Analytical Developments, Prof. Fernando Sebastián García Einschlag (Ed.), ISBN: 978-953-51-0882-5, InTech, DOI: 10.5772/52025.

* Precipitation of Heavy Metals from Wastewaters  (diakses 6 Agustus 2014)

* http://www.awwtinc.com/electrocoagulation-process.php (diakses 22 September 2014)

* http://www.pprc.org/cpc/workshops/electrowinning.pdf (diakses 22 September 2014)

 

 

Logam Berat di Dalam Air Limbah, part 1: Macam, Dampak yang Ditimbulkan, dan Cara Analisis

Logam berat merupakan parameter yang banyak ditemui di dalam air limbah industri. Logam berat yang umum ditemui di dalam air limbah antara lain arsenik, timbal, merkuri, kadmium, kromium, zink, tembaga, perak, dan nikel. Beberapa sumber utama logam berat di dalam air limbah dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Logam Berat dan Industri yang Menjadi Sumbernya

Logam Berat Industri Sumber Referensi
Arsenik Peleburan logam, industri pestisida dan fungisida H.K. Alluri et.al., 2007
Timbal Industri cat, pestisida, pembakaran batu bara, pertambangan H.K. Alluri et.al., 2007
Merkuri Industri pestisida, baterai, kertas H.K. Alluri et.al., 2007
Kadmium Pengelasan, electroplating, industri baterai, instalasi fisi nuklir H.K. Alluri et.al., 2007
Kromium Industri otomotif, pelapisan logam, pewarna tekstil Metcalf & Eddy, 2004
Zink Industri pelapisan logam, pembuatan kuningan, penyulingan H.K. Alluri et.al., 2007
Tembaga Industri pelapisan logam, pembuatan kawat tembaga, industri cat, pengawetan kayu A. Basyal et.al., 2013
Perak Produksi perak nitrat dan perak bromide, industri elektronik, industri logam Metcalf & Eddy, 2004
Nikel Industri pembuatan kapal, otomotif, industri elektronik, industri kimia A. Basyal et.al., 2013

 

Logam berat yang terbawa ke perairan dapat mengalami bioakumulasi di dalam tubuh makhluk hidup. Melalui rantai makanan, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Karena sifat bioakumulasi tersebut, apabila manusia memakan makanan yang berasal dari perairan yang tercemar logam berat, maka konsentrasi tertinggi logam berat akan ada di tubuh manusia. Konsentrasi logam berat yang berlebihan di dalam tubuh sangat berbahaya karena dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Ingat kasus keracunan merkuri di Minamata yang sangat menyedihkan dan berbagai kasus lainnya terkait logam berat!

Bioakumulasi Logam Berat (Sumber: mercuryinschools.uwex.edu)
Bioakumulasi Logam Berat (Sumber: mercuryinschools.uwex.edu)

 

 

Mekanisme Logam Berat Di Dalam Rantai Makanan
Mekanisme Logam Berat Di Dalam Rantai Makanan (Sumber: http://fanaticcook.blogspot.com)

Keberadaan logam berat di dalam air limbah menjadi perhatian karena pada konsentrasi yang tinggi logam berat bersifat toksik. Di dalam instalasi yang memanfaatkan proses pengolahan secara biologi, keberadaan logam berat dalam konsentrasi tinggi menjadi musuh bagi reaktor. Toksisitas logam berat dapat mengganggu metabolisme bakteri di dalam reaktor sehingga otomatis kinerja reaktor juga akan terganggu. Jika konsentrasi logam berat tidak diperhatikan, bukan hanya terancam tidak lolos baku mutu air limbah, biaya dan waktu yang diperlukan untuk pemulihan reaktor juga tidak sedikit.

Analisis konsentrasi logam berat di dalam air limbah dapat dilakukan dengan bermacam cara antara lain AAS, ICP, LIBS, dan ASV. Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing metode yang dikutip dari Determination of Trace Metals in Waste Water and Their Removal Processes:

1. Atomic Absorption Spectrometry (AAS)

Di dalam pengujian AAS sendiri terdapat beberapa metode berdasarkan teknik atomisasi logam. Teknik-teknik tersebut yaitu pembakaran (flame, FAAS), graphite furnace (GFAAS), hidrida, atau uap dingin (cold vapour). Pengukuran dengan teknik FAAS dan GFAAS dapat digunakan untuk hampir semua jenis logam berat. Bedanya adalah pada FAAS batas pengukuran adalah rentang ppm sementara GFAAS dapat menganalisis rentang yang lebih kecil hingga ppb. Teknik hidrida digunakan untuk menganalisis logam-logam seperti arsenic, antimony, selenium, timah, bismuth, dan timbal pada fasa uapnya. Teknik cold vapour digunakan untuk analisis logam merkuri dengan rentang pengukuran pada besaran ppb.

2. Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES)

ICP merupakan metode pengukuran logam berat yang menggunakan plasma untuk mengeksitasi atom-atom di dalam sampel. Pada ICP-OES, atom yang tereksitasi mengemisikan cahaya pada panjang gelombang tertentu dan kemudian intensitas cahaya yang sebanding dengan konsentrasi elemen tersebut diukur dengan detektor. Pengukuran dengan ICP memiliki keunggulan yaitu kemampuannya untuk analisis multi-elemen. Dengan demikian, berbagai komponen logam berat dari satu sampel dapat dianalisis sekaligus dalam waktu yang sangat singkat (dalam hitungan menit).

3. Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS)

Pada ICP-MS, atomisasi dilakukan menggunakan plasma kemudian ion dideteksi menggunakan mass spectrometer. Perbandingan antara metode AAS dan ICP dapat dilihat pada tabel.

Tabel 2. Perbandingan Metode AAS dan ICP

  FAAS GFAAS ICP-OES ICP-MS
Waktu analisis ++ + +++ +++
Harga instrumen +++ ++ ++ +
Analisis sampel berupa solids (padatan) +++
Biaya operasional + ++ ++ ++
Batas pengukuran + ++ ++ +++
Ketelitian +++ + ++ ++

– Tidak dapat dipenuhi, + Buruk, ++ Medium, +++ Baik

 

4. Laser Induced Breakdown Spectroscopy (LIBS)

Metode analisis dengan LIBS sebanrnya lebih sesuai untuk sampel yang berbentuk padatan. Pada metode ini digunakan denyut laser berenergi tinggi sebagai sumber eksitasi.

5. Anodic Stripping Voltammetry (ASV)

Metode ASV terdiri dari dua tahapan yang dimulai dengan proses penjenuhan konsentrasi logam melalui electroplating ke suatu elektroda di dalam larutan. Tahapan selanjutnya adalah pelepasan ion-ion logam dari elektroda yang mana proses ini akan menghasilkan arus yang dapat diukur. Adanya penjenuhan konsentrasi logam di tahap pertama memungkinkan pengukuran logam pada konsentrasi yang sangat rendah hingga kisaran ppb bahkan ppt (www2.chemistry.msu.edu).

Sumber:

* H.K. Alluri et.al., « Biosorption: An eco-friendly alternative for heavy metal removal”, African Journal of Biotechnology, vol. 6 (25) (pp. 2924-2931), 28 December 2007.

* Metcalf and Eddy, 2004, Wastewater Engineering 4th edition, McGraw Hill International Editions, New York.

* Asli Baysal, Nil Ozbek and Suleyman Akman (2013). Determination of Trace Metals in Waste Water and Their Removal Processes, Waste Water – Treatment Technologies and Recent Analytical Developments, Prof. Fernando Sebastián García Einschlag (Ed.), ISBN: 978-953-51-0882-5, InTech, DOI: 10.5772/52025.

* https://www2.chemistry.msu.edu/courses/cem837/Anodic%20Stripping%20Voltammetry.pdf (diakses 5 September 2014)

My Wastewater Story: Tangki Septik Vermibiofilter

Artikel pertama di My Wastewater Story (MWS) adalah mengenai tangki septik vermibiofilter yang dibuat oleh salah satu teman saya, Haryo Budi Guruminda[1].

Haryo, sapaan akrabnya, adalah seorang peneliti sanitasi dan aktivis lingkungan. Tangki septik vermibiofilter ini pernah menjadi juara terbaik 1 pilar 1 pada Lomba Inovasi Sanitasi Nasional Berbasis Masyarakat tahun 2014[2]. Di kediamannya, fasilitas pengolahan limbah cair  ini sudah enam bulan dimanfaatkan untuk mengolah air limbah domestik.

Di tengah kesibukannya, Haryo bersedia menyempatkan waktu untuk sharing dengan saya mengenai salah satu hasil temuannya ini. Nah, ini dia hasil tanya jawab saya dengan beliau.  Semoga dapat menginspirasi kita semua.

Apa sih maksudnya tangki septik vermibiofilter itu?

Tangki septik vermibiofilter yaitu tangki septik yang digabungkan dengan teknologi vermibiofilter. Vermibiofilter adalah kombinasi antara media filter dan cacing (bertindak sebagai pengurai). Cacing bertugas untuk mengkonsumsi padatan dari air limbah domestik.

Dari mana sumber air limbah yang masuk ke tangki septik vermibiofilter ini?

Air limbah yang dimaksud merupakan buangan yang berasal dari toilet. Air limbah dari toilet disalurkan menggunakan pipa ke dalam tangki pertama yang merupakan tempat pengumpulan dan pengenceran.

Bagaimana caranya air limbah di tangki pertama diencerkan?

Setelah mengalami kontak dengan air, lama-kelamaan tinja akan menjadi encer. Jadi pengencerannya secara otomatis.

Apakah lumpur yang mengendap di tangki pertama perlu dikuras?

Secara teoretis tidak perlu dikuras

 

Cara Kerja Tangki Septik Vermibiofilter (sumber: dokumen pribadi Haryo)

Bahan-bahan/material apa saja yang diperlukan untuk pembangunan tangki septik vermibiofilter ini?

Bahan yang diperlukan berupa bahan dasar konstruksi saja (semen, pasir, batu, besi) plus cacing tanah merah (Lumbrecus rubellus).

Berapa kisaran biaya yang diperlukan untuk pembangunan tangki ini?

Kalau membuat sendiri, kisaran biayanya adalah 900 ribu rupiah

Bagaimana monitoring proses yang dilakukan?

Dua minggu sekali dilakukan panen pupuk dan cacing. Interval dua minggu diambil dari waktu reproduksi cacing

Kemana efluen hasil pengolahan disalurkan? Apa ada monitoring karakteristik efluen?

Efluen hasil filtrasi disalurkan ke sungai, tapi dapat pula ke bidang resapan. Sementara itu, untuk membantu mengurangi kadar air dan nutrisi berlebih dibuat wetland yang juga berfungsi sebagai tempat pengambilan sisa metabolisme cacing (kascing) dan panen cacing tanah. Sampai saat ini monitoring karakteristik efluen belum dilakukan.

Untuk wetland, apakah ada rekomendasi penggunaan tanaman jenis tertentu?

Bambu air, melati air, atau papyrus agar air tidak terlalu banyak yang diinfiltrasi ke dalam tanah.

(1) Pembuatan lubang penampungan lumpur limbah, (2) Lubang yang sudah setengah jadi, (3) Lubang tempat pengambilan kascing, (4) Tangki septik yang sudah siap pakai (sumber: dokumen pribadi Haryo)

Semoga sukses untuk Haryo dengan hasil penelitian lainnya di masa yang akan datang!

Bagi rekan pembaca lain yang punya cerita yang ingin dibagikan seputar air limbah, silakan kontak saya melalui email muti@airlimbah.com



[1] Haryo Budi Guruminda, ST. Peneliti sanitasi, aktivis lingkungan. Kontak email: lalears(at)yahoo.com

[2] Haryo sebagai inventor, dibantu Ir. Nurhasanah Sutjahjo,MM (peneliti utama puslitbang permukiman) sebagai mentor.

Sebaik Apakah Kondisi Sanitasi di Indonesia?

Ada ide?

Kali ini saya ingin sharing mengenai data kondisi sanitasi di Indonesia. Kenapa sanitasi? Karena masalah sanitasi juga berhubungan dengan penanganan air limbah domestik. Data yang saya peroleh memang bukan data baru, dari tahun 2010. Tetapi, sampai saat ini memang belum menemukan data terbaru. Kalau ada rekan pembaca yang punya info lebih baru, bagus juga untuk sharing di sini, agar pembaca yang lain juga bisa update info.

Berdasarkan data tahun 2010[1], di antara negara-negara anggota PBB, Indonesia menduduki peringkat 128 (dari 181) dalam hal akses masyarakat terhadap sanitasi. Dari sumber yang sama tercatat bahwa akses yang sangat minim terjadi pada penduduk di pedesaan. Bagi masyarakat perkotaan, 73%-nya telah memiliki akses, sementara untuk masyarakat pedesaan baru 39%-nya[2]. Data-data ini menunjukkan adanya kesenjangan di dalam hal pengelolaan air limbah domestik di wilayah perkotaan dan pedesaan. Walaupun ketersediaan akses terhadap sanitasi tidak menjamin bahwa air limbah domestik dapat terkelola dengan baik. Sebagai contoh, penduduk yang memiliki toilet belum tentu memiliki septic tank atau akses kepada saluran air buangan (sewerage).

Data lain dari PBB[3] menyebutkan bahwa dari 2,5 milyar penduduk di dunia yang tidak memiliki akses terhadap toilet, 63 juta-nya terdapat di Indonesia. Jumlah ini adalah jumlah kedua terbesar setelah India. Tema ini pernah diangkat di dalam suatu sesi siaran Bahasa Indonesia di salah satu radio Australia. Pada acara tersebut yang menjadi nara sumber adalah Prof. Joni Hermana dari ITS. Rekaman wawancara dapat didengar pada situs radio Australia, ABC.

Ternyata kondisi sanitasi di Indonesia masih sangat minim, ya? Well, mudah-mudahan info yang di-posting kali ini bisa membuka mata kita karena langsung atau tidak langsung, kondisi ini berdampak pada pencemaran sumber air di Indonesia. Tahu kan, bahayanya?