Screening Air Limbah

Screening di dalam pengolahan air limbah merupakan salah satu tahapan pra pendahuluan (pre-treatment). Di dalam tahapan ini dilakukan penyisihan material-material berukuran besar (kasat mata) dari dalam air limbah. tujuannya adalah agar material tersebut nantinya tidak akan merusak pompa, aerator, menyumbat pipa, dan peralatan lainnya sehingga proses pengolahan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Untuk tujuan tersebut, screen diletakkan di hulu instalasi sebelum air limbah masuk ke dalam unit-unit pengolahan. Umumnya suatu instalasi tidak hanya memasang satu melainkan dua buah screen. Tujuannya adalah agar ada cadangan apabila salah satu screen dalam proses pemeliharaan, pembersihan, maupun perbaikan.

Pada tahapan screening dilakukan penyisihan material yang ukurannya lebih besar dari celah (bukaan) screen yang digunakan. Material yang disisihkan dapat berupa sampah atau benda lainnya (misalnya plastik, daun-daunan, ranting pohon, kayu, dsb) yang kemungkinan masuk ke dalam saluran air limbah. Berdasarkan ukuran celahnya, screen dapat dibagi menjadi dua macam yaitu coarse screen dan fine screen.

Coarse Screen

Ukuran celah pada coarse screen biasanya berkisar antara 6 hingga 150 mm (Metcalf&Eddy, 2004). Dengan ukuran celah tersebut, coarse screen biasanya digunakan untuk menyingkirkan benda-benda berukuran besar. Coarse screen dapat dibedakan berdasarkan metode pembersihannya, yaitu secara manual (manually cleaned) atau mekanik (mechanically cleaned). Tipe manual, selain digunakan untuk melindungi peralatan di IPAL, juga dapat digunakan sebagai cadangan bagi tipe mekanik atau diletakkan pada saluran by-pass. Tipe mekanik adalah yang paling umum digunakan karena tidak memerlukan operator untuk membersihkan permukaannya.

Manually cleaned coarse screen, disebut juga bar screen (sumber:www.sharpengineering.co.in)
Mechanically cleaned coarse screen (sumber:www.fontanar.cz)

 

Fine Screen

Fine screen memiliki ukuran celah kurang dari 6 mm (Metcalf&Eddy, 2004). Dengan ukuran celah yang kecil, fine screen tidak hanya digunakan sebagai instrumen dalam tahap pra pendahuluan, tapi juga sebagai unit pengolahan primer. Pemanfaatan fine screen dapat membantu penyisihan TSS sebanyak 15-30%, BOD sebesar 5-25%, lemak sebanyak 30-50%, dan padatan yang mengapung hingga 90% (wwdmag.com).

 

Fine screen: inclined drum screen (sumber: http://www.hydrofluxhuber.com.au)

Memilih Screen yang Tepat

Beberapa pertimbangan dalam pemilihan screen yaitu (huberforum.net):

  • Kecepatan aliran maksimum dan minimum air limbah yang akan melewati screen
  • Debit air limbah saat ini dan di masa yang akan datang
  • Besarnya celah yang diperlukan
  • Headloss yang melewati screen
  • Penanganan material yang tertahan pada screen hingga pembuangannya
  • Ketersediaan ruang
  • Pola debit harian
  • Karakteristik air limbah (dalam hal ini jenis/ukuran material yang akan melewati screen)
  • Biaya instalasi dan operasional
  • Lokasi pemasangan (indoor atau outdoor)
  • Mekanisme pemantauan operasional screen
  • Potensi timbulnya bau
  • Bentuk dan model screen
  • Material screen

 

Sumber:

* Metcalf and Eddy, 2004, Wastewater Engineering 4th edition, McGraw Hill International Editions, New York.

* www.wwdmag.com (diakses 7 Mei 2014)

* http://huberforum.net/we&t (diakses 7 Mei 2014)

100 Tahun Activated Sludge (1914 – 2014)

Tahukah Anda bahwa tahun ini adalah ulang tahun keseratus proses activated sludge (lumpur aktif)? Dalam rangka memperingati seratus tahunnya proses activated sludge di dunia pengolahan air limbah, saya ingin berbagi mengenai sejarah dan  proses utama dari activated sludge.

Penemu Activated Sludge, Edward Ardern (sebelah kiri, berdiri) dan William Lockett (sebelah kanan, duduk) pada tahun 1910 (Sumber: www.activatedsludgeconference.com)

Proses activated sludge pertama kali dipublikasikan oleh dua peneliti, Edward Ardern dan William Lockett, pada 3 April 1914 di Manchester. Makalah berjudul “Experiments on the Oxidation of Sewage Without the Aid of Filters” yang mereka presentasikan saat itu menjadi cikal bakal activated sludge dalam pengolahan air limbah. Eksperimennya sendiri telah dilakukan sejak tahun 1913, dimana pada saat itu mereka melakukan aerasi pada sampel dari limbah domestik di Manchester di dalam botol berukuran sekitar 2.3 liter (80 oz). Pada selang berbentuk siku yang dimasukkan ke dalam botol dialirkan udara agar terjadi proses aerasi serta pengadukan air limbah. Proses aerasi dilakukan selama 24 jam dan pengamatan awal dilakukan selama lima minggu. Setelah lima minggu, cairan yang jernih dikeluarkan dari dalam botol dan limbah yang masih baru ditambahkan ke dalam padatan yang tersisa di dalam botol. Proses seperti ini mereka lakukan berulang kali. Mereka mendapati bahwa semakin banyak padatan yang terdapat di dalam botol, semakin cepat pula waktu oksidasi yang diperlukan, hingga pada akhirnya hanya diperlukan waktu 24 jam untuk mengoksidasi limbah yang baru. Pada masa itu, proses aerasi air limbah yang kini menjadi hal yang sangat biasa merupakan suatu penemuan yang revolusioner.

Di dalam makalah yang mereka publikasikan, dijelaskan ada tiga hal mutlak bagi proses activated sludge yaitu aerasi air limbah dengan keberadaan mikroorganisme, penyisihan padatan biologis dengan proses pengendapan, dan resirkulasi padatan yang telah diendapkan ke dalam tangki aerasi.

1. Aerasi air limbah dengan keberadaan mikroorganisme

Udara (dalam hal ini oksigen) dilarutkan ke dalam air limbah yang telah melewati pengolahan primer. Dengan adanya oksigen, mikroorganisme aerob akan dapat melakukan proses metabolisme dengan memanfaatkan senyawa organik dari dalam air limbah sebagai sumber karbon serta membentuk flok-flok (padatan biologis). Dalam proses metabolismenya, mikroorganisme aerob juga memerlukan nutrien. Nutrien makro yang diperlukan yaitu nitrogen dan fosfor yang umumnya sudah tersedia di dalam air limbah.

2. Penyisihan padatan biologis dengan proses pengendapan

Setelah proses aerasi dan pembentukan flok, air limbah akan masuk ke dalam tangki selanjutnya untuk proses pengendapan flok. Flok-flok yang diendapkan ini dikenal dengan istilah sludge (lumpur). Berbeda dengan tangki aerasi yang memiliki tingkat turbulensi yang tinggi, tangki pengendapan bersifat lebih tenang. Dengan aliran yang tenang ini, flok-flok yang telah terbentuk tidak akan pecah sehingga mudah untuk diendapkan.

3. Resirkulasi padatan yang telah diendapkan ke dalam tangki aerasi.

Setelah lumpur diendapkan, cairan yang jernih (supernatan) dialirkan ke saluran efluen untuk pengolahan berikutnya, sementara lumpur diresirkulasi ke tangki aerasi. Lumpur yang diresirkulasi ini mengandung mikroorganisme yang “lapar” zat-zat organik. Nah, di tangki aerasi itulah mereka akan diaktifkan kembali dengan cara memberi makanan berupa zat organik berikut nutrien. Resirkulasi lumpur ini juga dilakukan untuk menjamin jumlah miktoorganisme yang diperlukan di tangki aerasi mencukupi untuk proses penyisihan zat organik.

 

Diagram Proses Activated Sludge (sumber: www.iwawaterwiki.org)

Beberapa tujuan utama penggunaan proses activated sludge yaitu (www.iwawaterwiki.org):

  • Oksidasi senyawa karbon (senyawa biologis)
  • Oksidasi senyawa nitrogen, terutama ammonium dan nitrogen organik
  • Menyisihkan fosfat
  • Membebaskan gas-gas terlarut
  • Membentuk flok-flok biologis agar mudah diendapkan
  • Menghasilkan efluen dengan kadar TDS dan TSS rendah

 

Sumber:

www.iwawaterwiki.org (diakses 7 April 2014)

www.brighthubengineering.com (diakses 4 April 2014)

www.activatedsludgeconference.com  (diakses 7 April 2014)

Pengolahan Air Limbah dari Wet Scrubber untuk Proses Flue Gas Desulfurization

Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu emisi penting di instalasi pembangkit listrik (power plant) tenaga batubara. Salah satu cara yang digunakan untuk menurunkan konsentrasi SO2 dari gas buang (flue gas) atau dikenal dengan flue gas desulfurization (FGD) adalah menggunakan wet scrubber. Metode pengolahan gas buang yang satu ini terutama diaplikasikan pada emisi dengan kandungan sulfur yang tinggi. Di satu sisi, wet scrubber dapat mengatasi polusi udara dengan cara menurunkan kandungan SO2 dari dalam gas buang. Akan tetapi, di sisi lain metode penyisihan polutan udara ini menghasilkan limbah cair yang harus diolah.

Limbah cair yang dihasilkan dari proses FGD dengan wet scrubber bersifat asam dan memiliki kandungan CaSO4 yang sangat tinggi. Di samping itu juga mengandung TDS, TSS, logam berat, klorida, dan zat organik terlarut yang tinggi. Pengolahan limbah cair dari wet scrubber sebaiknya dilakukan di sistem tersendiri, tidak digabung dengan instalasi pengolahan limbah eksisting di power plant. Alasan pemisahan sistem pengolahan antara lain karena:

  • Kapasitas yang dimiliki oleh IPAL eksisting kemungkinan tidak memadai
  • Material konstruksi yang dimiliki umumnya tidak sesuai untuk limbah dengan karakteristik klorida yang tinggi
  • Desain proses pada IPAL eksisting kemungkinan tidak sesuai untuk memenuhi kebutuhan pengolahan air limbah dari wet scrubber

Pengolahan air limbah yang diperlukan tergantung pada karakteristik limbah yang dihasilkan dan akan berbeda dari satu power plant dengan yang lainnya. Skema berikut ini merupakan tahapan umum pengolahan limbah cair dari wet scrubber untuk proses FGD.

Sumber: www.water.siemens.com

Kombinasi antara pengolahan fisik-kimia yang terdiri dari proses presipitasi, koagulasi, pengendapan, dan filtrasi merupakan yang paling umum dipakai. Rangkaian proses dimulai dari peningkatan pH menjadi 8.5-9.2 untuk memungkinkan terjadinya pengendapan logam-logam utama seperti aluminium, besi, dan mangan. Zat kimia yang biasa ditambahkan untuk menaikkan pH adalah kalsium hidroksida (Ca(OH)2) atau natrium hidroksida (NaOH). Untuk mengendapkan logam-logam sulfida, dilakukan penambahan organosulfida. Penambahan koagulan bertujuan untuk meningkatkan performa pengendapan. Tahapan selanjutnya setelah pengendapan adalah netralisasi menggunakan asam klorida (HCl). Setelah itu, jika diperlukan, dapat dilakukan proses filtrasi untuk menghasilkan air olahan dengan kandungan suspended solids yang rendah. Air hasil backwash pada proses filtrasi diresirkulasi ke hulu sistem.

Sumber: www.water.siemens.com (Treating FGD Wastewater: Phase 2 Clean Air Act Amendments Make It Hot Topic, by Brian Heimbigner), diakses 26 Maret 2014

Biodredging, Solusi untuk Atasi Lumpur Pada Lagoon

Tumpukan lumpur di dasar kolam merupakan salah satu persoalan bagi instalasi yang memanfaatkan lagoon (kolam) dalam pengolahan air limbah mereka. Endapan pada dasar kolam dapat menimbulkan pendangkalan sehingga volume efektif kolam menjadi berkurang. Pengerukan (dredging) secara mekanik menggunakan mesin alternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi lumpur pada dasar kolam. Langkah tersebut memang dapat  mengatasi masalah pendangkalan secara cepat namun dari segi biaya tidak sedikit yang harus dikeluarkan. Biaya yang dimaksud antara lain biaya sewa atau perawatan alat keruk, bahan bakar, dan tenaga kerja. Selain pengoperasian alat yang harus dilakukan oleh operator yang terlatih, timbul pula resiko alat pengeruk merusak perpipaan maupun lining di bagian dasar kolam.

Opsi yang lebih ramah biaya dan lingkungan dikenal dengan biodredging. Istilah biodredging merupakan terminologi populer di industri untuk menyatakan proses reduksi lumpur di dasar kolam menggunakan bantuan mikroorganisme. Karena yang bekerja untuk mengurangi lumpur adalah mikroorganisme, maka perlu diingat bahwa lumpur yang dimaksud adalah yang sifatnya organik. Jadi jika endapan yang terbentuk adalah endapan anorganik (misalnya material yang terbawa oleh air hujan), jangan berharap metode biodredging dapat menyelesaikan masalah lagoon Anda. Dengan biodredging maka lumpur di-digest secara in-situ (di lokasi yang sama) sehingga pada akhirnya dapat mengurangi volume lumpur di bagian dasar lagoon.

Pada prinsipnya, biodredging adalah menambahkan sejumlah mikroorganisme dari jenis yang diinginkan ke dalam lagoon untuk membantu mengurai material organik yang terdapat di dalam lumpur. Jenis bakteri yang digunakan dapat bermacam-macam tergantung dari kondisi lagoon. Dikutip dari blog Solitude Lake Management, dalam proses biodredging terdapat dua macam dosis bakteri yang diaplikasikan. Pada permulaan proses biodredging, ke dalam lagoon ditambahkan bakteri yang diinginkan dalam konsentrasi tinggi. Selanjutnya, untuk memastikan bahwa tersedia bakteri dalam jumlah yang memadai dilakukan penambahan dengan dosis pemeliharaan.

Berikut ini adalah keunggulan biodredging yang dikutip dari situs milik DSC Aquatic Solutions:

  • Aman bagi lingkungan
  • Biaya lebih rendah , sekitar sepertiga dari pengerukan secara mekanik (mechanical dredging)
  • Tidak mengganggu ekologi lagoon maupun menyebabkan kekeruhan pada lagoon
  • Tidak perlu melakukan pemindahan lumpur ke lokasi lain karena proses digestion dilakukan di tempat
  • Tidak ada kebisingan dari alat berat
  • Tidak merusak lining di bagian dasar lagoon
  • Dapat mengurai senyawa hidrokarbon minyak bumi serta FOG (fat, oil, and grease)
  • Tidak memerlukan kolam pengendapan maupun lahan pembuangan lumpur (dumping sites)
  • Menurunkan BOD dan COD
  • Meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut

Sumber:

* www.waterworld.com, Lagoon Logic: Elimination of Biosolids Build Up Through Biodredging (diakses 10 Maret 2014)

* www.dscaquaticsolutions.com/biodredge.html (diakses 11 Maret 2014)

* Solitude Lake Management (diakses 10 Maret 2014)

Start-up Reaktor Digester Lumpur Anaerob

Pengolahan anaerob dikenal dengan waktu start-up yang cukup lama. Karena waktu yang lama tersebut, penanganannya harus sangat hati-hati untuk menghindari kegagalan performa di tengah-tengah proses start-up. Berikut ini dijelaskan dua cara start-up reaktor digester lumpur anaerob yaitu start-up dengan dan tanpa seed sludge.

1. Start-up dengan seed sludge

Metode ini merupakan cara yang paling umum dilakukan, yaitu memanfaatkan lumpur dari reaktor anaerob lain sebagai seed sludge. Tujuan seeding dengan metode ini adalah untuk mengeliminasi waktu yang diperlukan untuk start-up karena mikroorganisme yang diperlukan telah tersedia. Prosedur umum:

  • Isi digester dengan lumpur seeding sebanyak mungkin
  • Isi sisa ruang yang tersedia dengan air limbah yang masih belum diolah (raw wastewater) hingga memenuhi tangki
  • Lakukan pengadukan digester kemudian panaskan (jika perlu) agar temperatur reaktor mencapai temperatur operasional (biasanya pada 35OC)
  • Mulai lakukan pengisian (feeding) digester dengan lumpur yang belum diolah (raw sludge)dengan kapasitas padatan volatil tidak melebihi 20% dari kapasitas desain
  • Feeding sebaiknya dilakukan secara kontinyu daripada dalam volume besar
  • Lakukan pemantauan pH, alkalinitas, dan asam volatil (volatile acids, VA) untuk memastikan rasio VA terhadap alkalinitas tetap berada di bawah 0.5 dan alkalinitas tidak melebihi 1500 mg/L
  • Setelah 20 hari, secara bertahap selama 10 hingga 20 hari berikutnya, tingkatkan laju feeding hingga mencapai kapasitas desain. Lakukan pemantauan dan koreksi pada penyimpangan baik pada parameter kimia maupun fisik

2. Start-up tanpa seed sludge

Waktu yang diperlukan untuk start-up akan lebih lama jika lumpur untuk seeding tidak tersedia. Selain proses aklimatisasi mikroorganisme yang lebih lama, metode ini juga memerlukan monitoring yang lebih ketat untuk mengatasi adanya kemungkinan penurunan performa selama periode start-up. Prosedur umum untuk metode ini yaitu:

  • Isi digester dengan raw wastewater hingga penuh lalu lakukan pengadukan dan pemanasan reaktor hingga mencapai temperatur operasional (umumnya pada 35oC)
  • Pada 20 hari pertama lakukan feeding menggunakan raw sludge dengan beban padatan volatil tidak melebihi 10% dari desain. Feeding sebaiknya dilakukan secara kontinyu daripada dalam volume besar sekaligus.
  • Lakukan pemantauan pH, alkalinitas, dan asam volatil (volatile acids, VA) untuk memastikan rasio VA terhadap alkalinitas tetap berada di bawah 0.5 dan alkalinitas tidak melebihi 1500 mg/L
  • Setelah 20 hari, secara bertahap selama 10 hingga 20 hari berikutnya, tingkatkan laju feeding hingga mencapai kapasitas desain. Lakukan pemantauan dan koreksi pada penyimpangan baik pada parameter kimia maupun fisik

Parameter yang terpenting untuk dipantau antara lain pH, alkalinitas, VA, padatan volatil, serta kualitas dan kuantitas gas digester. pH harus dijaga pada rentang 6.6 -7.2 agar aktivitas mikroorganisme dapat berjalan dengan baik. Untuk menjaga agar reaktor tidak mengalami pengasaman, alkalinitas harus berada pada rentang 1500 hingga 3000 mg/L. Rasio VA terhadap alkalinitas harus dijaga agar berada di bawah 0.5 . Apabila kandungan VA terlalu tinggi maka feeding harus dikurangi. Demikian pula jika alkalinitas terlalu rendah maka perlu ada penyesuaian dengan menambahkan bahan kimia agar kondisi reaktor menjadi stabil. Kuantitas gas yang dihasilkan harus berada pada rentang 0.75 – 1.12 m3 per kg padatan volatil yang diolah dengan kandungan metan sebanyak 25-35%.

Sumber:  Kurian, R. Slade, J., Holliday,M., Liver, S., Derjugin, W., Avoiding Indigestion: Start-Up Of Anaerobic Digesters, WEAO 2012 Technical Conference.

Pompa di Dalam Pengolahan Air Limbah

Pompa merupakan salah satu kelengkapan yang sangat vital di dalam instalasi pengolahan air limbah. Pemompaan di dalam instalasi pengolahan air limbah digunakan antara lain untuk memindahkan air limbah dari dalam sumur pompa ke reaktor pengolahan, dosing bahan kimia, mengeluarkan lumpur dari dalam clarifier. Ketiga proses pemompaan tersebut dapat dilakukan menggunakan jenis pompa desak (positive displacement pumps). Pompa jenis ini digunakan karena memiliki ketahanan tinggi dalam menangani beragam jenis fluida dan partikel padatan. Pompa dosing, salah satu pompa desak terkecil di pasaran, berfungsi untuk memompa bahan kimia ke dalam tangki dengan dosis yang tepat.

Material pompa harus sesuai dengan karakteristik fluida yang dialirkan untuk mencegah terjadinya pengikisan atau karat. Karakteristik air limbah yang dapat mempengaruhi pemilihan material pompa serta jenis lapisan/perlindungan yang diperlukan antara lain konsentrasi klorida, pH, konsentrasi oksigen, dan temperatur. Material impeller pompa merupakan yang terpenting untuk diperhatikan mengingat bagian ini sangat terpengaruh oleh kikisan dan korosi akibat kecepatan relatifnya terhadap air limbah. Beberapa material impeller pompa yang biasa digunakan antara lain grey iron, stainless steel, dan Hard-IronTM (xyleminc.com).

Grey Iron

Grey iron merupakan material impeller yang paling umum digunakan dalam pemompaan air limbah terutama jika karakteristik limbahnya tidak terlalu korosif (biasanya untuk air limbah domestik). Rentang pH yang sesuai untuk material grey iron adalah pada kisaran 5.5 hingga 14 dengan catatan kandungan klorida tidak melebihi 200 mg/L. Apabila konsentrasi klorida melebihi nilai tersebut maka diperlukan lapisan pelindung berupa zinc anoda dan pelapis epoksi khusus.

Stainless Steel

Stainless steel (tipe 316/329) memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi namun tidak pada pengikisan. Air limbah kerap kali mengandung partikel yang abrasif sehingga aplikasi pompa berbahan stainless steel sangat terbatas di instalasi pengolahan air limbah bahkan tidak terlalu direkomendasikan.

Hard-IronTM

Hard-IronTM memiliki ketahanan terhadap korosi dan juga tahan terhadap pengikisan. Hard-IronTM memiliki kandungan kromium (25%) dan karbon (3%). Sebuah pengujian yang dilakukan di laboratorium milik Xylem,Inc. menunjukkan bahwa impeller berbahan Hard-IronTM memiliki ketahanan terhadap pengikisan hingga tiga kali lebih lama dibanding impeller berbahan grey iron dan stainless steel.

Sumber:

http://www.pump-zone.com/topics/pumps/pumps/positive-displacement-pumps-wastewater-treatment#sthash.xI8QaWwI.dpuf

www.xyleminc.com (White paper: Material Selection For Wastewater Pumps, June 2013)

Pengolahan Air Limbah dan Perubahan Iklim

Setelah pada artikel sebelumnya dibahas mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap pengolahan air limbah, kali ini kita akan berbicara mengenai kebalikannya. Ternyata proses pengolahan air limbah dapat memberi pengaruh terhadap perubahan iklim. Bagaimana tidak, gas-gas rumah kaca yang utama kesemuanya dapat diproduksi di instalasi pengolahan air limbah.

Karbondioksida (CO2). Gas yang satu ini dapat berasal baik dari hasil respirasi mikroorganisme, pembakaran gas pada sludge digester, perombakan zat organik, serta penggunaan energi listrik.

Metan (CH4). Jumlah gas metan yang dihasilkan akan tergantung dari banyaknya zat organik yang didegradasi secara anaerob. Selain itu, temperatur juga akan berpengaruh pada laju pembentukan gas metan Semakin tinggi temperatur maka laju produksi gas akan semakin tinggi pula.

Nitrogen oksida (N2O). salah satu oksida nitrogen ini pembentukannya berhubungan dengan degradasi senyawa nitrogen di dalam air limbah (misalnya urea, protein, dan nitrat). Walaupun N2O dapat terbentuk baik pada proses nitrifikasi maupun denitrifikasi sebagai senyawa intermediet namun keberadaannya lebih sering diasosiasikan dengan denitrifikasi. Walaupun CO2 paling banyak disebut sebagai penyebab efek rumah kaca ternyata efek yang ditimbulkan oleh N2O jauh lebih besar yaitu 300 kali lipat lebih besar dibanding CO2.

Sumber: Gupta, D.; Singh, S.K. Greenhouse gas emissions from wastewater treatment plants: A case study of noida. J. Water Sustain. 2012, 2, 131–139.

Dampak Perubahan Iklim Pada Pengolahan Air Limbah

Perubahan iklim atau climate change merupakan salah satu topik lingkungan yang sedang marak dibicarakan. Berkaitan dengan topik populer yang satu ini, berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan dengan adanya perubahan iklim di dalam pengolahan air limbah.

Peningkatan temperatur air limbah

Suhu air limbah yang lebih tinggi dapat mempengaruhi kehidupan di perairan penerima. Selain itu, temperatur yang meningkat juga dapat mempengaruhi proses yang terjadi pada pengolahan biologi karena laju reaksi biologi tergantung pada temperatur. Laju pertumbuhan mikroorganisme yang semakin tinggi dapat membuat pipa maupun tangki lebih rentan terhadap korosi.

Terpengaruhnya proses-proses pengolahan limbah

Air limbah yang hangat akan meningkatkan laju reaksi  mikroorganisme sehingga densitas lumpur akan berkurang dan sedimentasi akan semakin sulit. Sementara itu, peningkatan laju evaporasi dapat membuat konsentrasi padatan semakin tinggi. Pada proses aerasi akan diperlukan energi yang lebih besar pada air limbah yang memiliki temperatur lebih tinggi.

Perubahan karakteristik badan air penerima

Meningkatnya level muka air laut akibat mencairnya es di kutub dapat meningkatkan kadar garam pada perairan muara sehingga perlu ada penyesuaian terhadap karakteristik air limbah terolah.

Banjir

Salah satu dampak perubahan iklim adalah daratan lebih rentan untuk terkena banjir dan berpotensi merusak infrastruktur pengolahan limbah. Banjir juga dapat menyebabkan debit air yang masuk ke instalasi pengolahan limbah mengalami peningkatan. Hal ini berakibat pada perubahan
karakteristik air limbah.

Berkurangnya debit air limbah

Berlawanan dengan kejadian banjir, dampak perubahan iklim lainnya adalah kekeringan akibat tingginya laju evaporasi. Kondisi seperti ini
dapat menurunkan debit air limbah yang akan diolah sehingga mempengaruhi  karakteristik limbah yang akan diolah.

Sumber: Implications of Climate Change For Adaptation by Wastewater and Stormwater Agencies (WERF, 2009)

Pengelolaan Air Limbah di Restoran

Usaha kuliner masih digemari dan kemunculan tempat makan baru dengan berbagai menu maupun tema unik masih marak. Bagi Anda yang berencana terjun ke bisnis ini, jangan melupakan pengelolaan air limbahnya. Sebagai gambaran, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan air limbah di restoran/tempat makan yang dikutip dari situs milik pemerintah Australia Selatan.

1. Bak cuci piring hanya digunakan untuk mencuci piring dan perabot makan/masak

Bak cucian piring bukanlah tempat sampah. Sisa makanan atau bahan masakan sebaiknya dibuang ke tempat sampah terlebih dahulu sebelum perabot kotor dicuci. Mungkin banyak dari kita yang terbiasa membuang sisa makanan ke dalam tempat cuci piring. Padahal selain dapat menyumbat saluran air buangan, sisa makanan juga dapat menambah beban pengolahan mulai dari zat organik, nutrien, minyak, lemak, dan lainnya.

2. Tidak membuang sisa minyak ke bak cuci piring

Pada temperatur yang rendah (seperti di dalam saluran air) minyak dapat membeku sehingga dapat menyumbat saluran air kotor.

3. Menghemat penggunaan air

Melakukan penghematan air selain menekan biaya operasional juga berarti meminimasi debit air limbah. Pada saat mencuci piring misalnya, tidak membiarkan keran air mengalir saat tidak digunakan. Untuk melumerkan bahan makanan beku juga sebaiknya tidak dilakukan dengan air mengalir. Bagi restoran yang menggunakan mesin pencuci piring sebaiknya menunggu hingga mesin penuh sebelum digunakan. Dengan kata lain tidak menggunakan mesin hanya untuk mencuci beberapa perabot makan saja. Untuk membersihkan lantai sebaiknya dengan cara disapu atau dipel dan bukan disiram.

4. Memasang unit pengolahan pendahuluan

Selain menghindari terlalu tingginya beban pengolahan, pemasangan unit-unit pengolahan pendahuluan juga dapat menghindari tersumbatnya saluran penyalur air limbah. Unit pengolahan pendahuluan yang digunakan misalnya perangkap lemak dan padatan. Padatan yang dimaksud terutama adalah sisa-sisa makanan yang tidak ikut terbuang ke tempat sampah. Untuk hal ini dapat digunakan perangkap berupa saringan dengan ukuran bukaan maksimum 2 mm yang dipasang di outlet bak cuci piring. Saringan dibersihkan sedikitnya satu kali sehari untuk menghindari sumbatan dan bau tak sedap. Setelah melewati saringan tersebut air dari bak cuci piring sebaiknya melewati perangkap lemak terlebih dahulu sebelum diteruskan ke saluran penyalur air limbah.

5. Memperhatikan aliran air yang masuk ke saluran buangan

Pada saat menggunakan bak cuci piring aliran air sebaiknya dijaga agar tidak terlalu deras (misalnya dengan menghindari penggunaan sprayer atau membuka keran terlalu besar). Apabila aliran terlalu deras maka sampah dapat terdorong dan menyumbat saluran air.

6. Menghindari temperatur tinggi

Setelah selesai merebus bahan makanan, ada kalanya air rebusan harus dibuang. Jangan langsung membuang air yang masih panas ke dalam saluran air buangan. Temperatur yang tinggi dapat melarutkan lemak sehingga sulit untuk dipisahkan (terutama bagi yang menggunakan unit perangkap lemak).

Sumber:

sawater.com.au (diakses 24 Desember 2013)

Agar Septic Tank Berumur Lebih Panjang

Secara berkala, pemilik bangunan yang mempunyai septic tank pasti melakukan pengurasan. Mungkin beberapa dari pengguna septic tank pernah mengalami kondisi dimana kinerja septic tank tidak optimal sehingga timing pengurasan lebih cepat dari sebelumnya. Nah, berikut ini beberapa tips yang diambil dari plumbingnetworks.com agar septic tank bisa berfungsi secara optimal. Semoga bermanfaat!
1. Tidak perlu menambah zat-zat aditif ke dalam septic tank. Keberadaan zat aditif memang tidak akan merusak kinerja septic tank, namun berpotensi merusak tanah di sekitar septic tank. Lagi pula, penambahan zat aditif tersebut tidak akan menambah interval waktu pengurasan tangki.

2. Batasi penggunaan air di rumah.

3. Jangan membuang zat-zat kimia (missal: obat, kosmetik) ke dalam saluran pembuangan air. Selain bahan kimia yang terkandung dapat mengganggu kehidupan mikroba di dalam septic tank, zat kimia tersebut juga berpotensi mencemari air tanah.

4. Jangan membuang tisu atau kertas ke dalam saluran pembuangan air. Tidak hanya dapat menyumbat saluran, potongan tisu atau kertas dapat membuat septic tank menjadi lebih cepat penuh.

5. Jangan memarkir kendaraan atau meletakkan benda-benda yang berat di atas lahan resapan karena akan memadatkan bidang resapan.

6. Hindari menanam tanaman yang berakar dalam di dekat bidang resapan  agar tidak merusak pipa dan mengubah kadar air tanah resapan.

7. Air limpasan hujan sebaiknya tidak dialirkan ke dekat lahan resapan. Hal ini dapat meningkatkan kadar air pada tanah resapan sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap air.

8. Melakukan pengecekan rutin (setahun sekali) pada pipa dan baffle (jika digunakan) pada septic tank.

9. Jika memungkinkan, lakukan monitoring ketinggian lumpur yang terakumulasi di dasar septic tank.

Sumber:

www.plumbingnetworks.com  diakses 12 Desember 2013