Membrane Autopsy

Membrane autopsy (sumber: www.genesysro.com)

Apa itu membrane autopsy?
Membrane autopsy (otopsi membran) merupakan salah satu metode untuk mengetahui penyebab spesifik kotornya membran (membrane fouling).

Untuk apa melakukan membrane autopsy?

Membrane autopsy dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kerusakan pada permukaan membran, ada atau tidaknya material asing pada permukaan membran, serta untuk menilai apakah material asing tersebut mempengaruhi operasional membran [1]. Dengan dilakukannya membrane autopsy, penyebab menurunnya kinerja membran dapat diketahui dengan lebih detail.

Kapan perlu melakukan membrane autopsy?
Kebanyakan instalasi melakukan membrane autopsy apabila membran dinilai sudah gagal dalam performanya misalnya penurunan debit maupun kualitas serta kerusakan yang terlihat pada permukaan membran [2]. Biasanya membrane autopsy dilakukan apabila berbagai upaya yang ditempuh sudah tidak mampu untuk mengatasi pengotoran membran.

Analisis apa saja yang dilakukan pada membrane autopsy?

Inspeksi fisik hollow fibre membrane (sumber: www.membranefutures.com)
Inspeksi fisik hollow fibre membrane (sumber: www.membranefutures.com)

Beragam analisis dapat dilakukan dalam proses membrane autopsy, antara lain [1,3]:
• Inspeksi visual untuk mempelajari kondisi internal dan eksternal membran.
• Loss-on Ignition untuk menentukan rasio komponen volatil dan non-volatil dari material pengotor serta sebagai panduan utnuk menentukan jenis pengotor yang ada.
• Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES) dan Dissolved Organic Carbon (DOC) untuk menentukan komponen anorganik terlarut dari material pengotor serta kandungan karbon organik.
• Scanning Electron Microscopy – X-ray Dispersive (SEM-EDX) untuk mempelajari permukaan membran dengan ketelitian yang tinggi yang berguna untuk mengidentifikasi jenis pengotor apakah organik, anorganik, atau biologi.
• Analisis Fujiwara untuk mengetahui apakah membran rusak akibat keberadaan senyawa halida, terutama klorin. Analisis Fujiwara dilakukan menggunakan metode kolorimetri.
• Analisis mikrobiologi
• Fourier Transform Infrared Spectrometry (FTIR) untuk mengidentifikasi material secara spesifik serta untuk mendeteksi kerusakan struktural dari membran poliamida yang disebabkan oleh bahan kimia.
• Analisis Total Organic Carbon (TOC)
• Fluorescence Excitation-Emission Matrix (FEEM) untuk mengetahui keberadaan komponen organik terlarut tertentu terutama asam humat, asam fulvat, dan yang mengandung protein.

Sumber:
[1] http://www.membranefutures.com/membrane-futures-serv/membrane-autopsy (diakses 16 Mei 2016)
[2] http://www.membranechemicals.com/membrane-autopsy-why-when-and-how/ (diakses 16 Mei 2016)
[3] http://www.membrane.unsw.edu.au/Membrane%20Autopsy (diakses 17 Mei 2016)

About Muti 132 Articles
Has a background in Environmental Engineering, loves to write, and her interest in everything related to wastewater brought her to write in this blog

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*