Start-up Reaktor Digester Lumpur Anaerob

Pengolahan anaerob dikenal dengan waktu start-up yang cukup lama. Karena waktu yang lama tersebut, penanganannya harus sangat hati-hati untuk menghindari kegagalan performa di tengah-tengah proses start-up. Berikut ini dijelaskan dua cara start-up reaktor digester lumpur anaerob yaitu start-up dengan dan tanpa seed sludge.

1. Start-up dengan seed sludge

Metode ini merupakan cara yang paling umum dilakukan, yaitu memanfaatkan lumpur dari reaktor anaerob lain sebagai seed sludge. Tujuan seeding dengan metode ini adalah untuk mengeliminasi waktu yang diperlukan untuk start-up karena mikroorganisme yang diperlukan telah tersedia. Prosedur umum:

  • Isi digester dengan lumpur seeding sebanyak mungkin
  • Isi sisa ruang yang tersedia dengan air limbah yang masih belum diolah (raw wastewater) hingga memenuhi tangki
  • Lakukan pengadukan digester kemudian panaskan (jika perlu) agar temperatur reaktor mencapai temperatur operasional (biasanya pada 35OC)
  • Mulai lakukan pengisian (feeding) digester dengan lumpur yang belum diolah (raw sludge)dengan kapasitas padatan volatil tidak melebihi 20% dari kapasitas desain
  • Feeding sebaiknya dilakukan secara kontinyu daripada dalam volume besar
  • Lakukan pemantauan pH, alkalinitas, dan asam volatil (volatile acids, VA) untuk memastikan rasio VA terhadap alkalinitas tetap berada di bawah 0.5 dan alkalinitas tidak melebihi 1500 mg/L
  • Setelah 20 hari, secara bertahap selama 10 hingga 20 hari berikutnya, tingkatkan laju feeding hingga mencapai kapasitas desain. Lakukan pemantauan dan koreksi pada penyimpangan baik pada parameter kimia maupun fisik

2. Start-up tanpa seed sludge

Waktu yang diperlukan untuk start-up akan lebih lama jika lumpur untuk seeding tidak tersedia. Selain proses aklimatisasi mikroorganisme yang lebih lama, metode ini juga memerlukan monitoring yang lebih ketat untuk mengatasi adanya kemungkinan penurunan performa selama periode start-up. Prosedur umum untuk metode ini yaitu:

  • Isi digester dengan raw wastewater hingga penuh lalu lakukan pengadukan dan pemanasan reaktor hingga mencapai temperatur operasional (umumnya pada 35oC)
  • Pada 20 hari pertama lakukan feeding menggunakan raw sludge dengan beban padatan volatil tidak melebihi 10% dari desain. Feeding sebaiknya dilakukan secara kontinyu daripada dalam volume besar sekaligus.
  • Lakukan pemantauan pH, alkalinitas, dan asam volatil (volatile acids, VA) untuk memastikan rasio VA terhadap alkalinitas tetap berada di bawah 0.5 dan alkalinitas tidak melebihi 1500 mg/L
  • Setelah 20 hari, secara bertahap selama 10 hingga 20 hari berikutnya, tingkatkan laju feeding hingga mencapai kapasitas desain. Lakukan pemantauan dan koreksi pada penyimpangan baik pada parameter kimia maupun fisik

Parameter yang terpenting untuk dipantau antara lain pH, alkalinitas, VA, padatan volatil, serta kualitas dan kuantitas gas digester. pH harus dijaga pada rentang 6.6 -7.2 agar aktivitas mikroorganisme dapat berjalan dengan baik. Untuk menjaga agar reaktor tidak mengalami pengasaman, alkalinitas harus berada pada rentang 1500 hingga 3000 mg/L. Rasio VA terhadap alkalinitas harus dijaga agar berada di bawah 0.5 . Apabila kandungan VA terlalu tinggi maka feeding harus dikurangi. Demikian pula jika alkalinitas terlalu rendah maka perlu ada penyesuaian dengan menambahkan bahan kimia agar kondisi reaktor menjadi stabil. Kuantitas gas yang dihasilkan harus berada pada rentang 0.75 – 1.12 m3 per kg padatan volatil yang diolah dengan kandungan metan sebanyak 25-35%.

Sumber:  Kurian, R. Slade, J., Holliday,M., Liver, S., Derjugin, W., Avoiding Indigestion: Start-Up Of Anaerobic Digesters, WEAO 2012 Technical Conference.

About Muti 132 Articles
Has a background in Environmental Engineering, loves to write, and her interest in everything related to wastewater brought her to write in this blog

5 Comments

  1. mau tanya dunk,
    untuk proses anaerob, apakah ada bakteri yang siap di aplikasikan dalam kondisi raw waternya PH asam 3-4

    maksih
    Ali

    • Pak Dimas perlu mengukur kadar asam volatil (Volatile acids, VA) dan alkalinitas dari air limbah, kemudian angka VA dibagi dengan alkalinitas. Hasilnya adalah rasio VA terhadap alkalinitas. Jangan lupa satuan kedua parameter ini harus sama.
      Mudah-mudahan saya tidak salah menangkap pertanyaan Bapak dan bisa terjawab.

      Salam,
      Muti

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*