air limbah

membagi informasi tentang air limbah

Laboratory results are only as good as the sample

Kutipan dari buku Basic Laboratory Procedures for Wastewater Examination, 4th Edition tersebut menunjukkan alasan pentingnya melakukan sampling (pengambilan sampel) yang baik dan benar. Sampel yang dianalisis merupakan representasi dari kondisi di lapangan. Oleh sebab itu waktu, lokasi, jumlah, serta perlakuan sampel harus diperhatikan agar data hasil analisis yang kita peroleh lebih akurat.

Mengapa Perlu Melakukan Sampling?

Beberapa alasan pentingnya sampling yang saya kutip dari buku Operation of Municipal Wastewater Treatment Plants  antara lain:

  • Adanya peraturan yang mengharuskan. Karena pelaksana pengolahan limbah harus melaporkan hasil analisis limbah mereka kepada pihak yang berkepentingan (lembaga pemantau lingkungan hidup seperti Bapedal, BPLHD, dan sebagainya), maka sampling air limbah akan dibutuhkan.
  • Pemantauan dan kontrol proses. Dengan melaksanakan sampling, proses yang terjadi di dalam pengolahan air limbah dapat dipantau sehingga tindakan preventif maupun penanganan masalah dapat dilakukan. Bagi mereka yang mengaplikasikan proses biologi, perubahan karakteristik limbah yang terlalu drastis dapat membahayakan proses biologi. Kondisi seperti ini dapat diketahui melalui data sampling sehingga upaya-upaya penanggulangan secara dini dapat dilakukan.
  • Data historis di instalasi pengolahan air limbah. Hal ini sangat bermanfaat terutama apabila di masa datang akan dilakukan pengembangan instalasi. Dengan adanya data historis, operator juga akan lebih mudah memahami karakteristik instalasi mereka.

Kapan Sebaiknya Mengambil Sampel?

Pengambilan sampel yang disarankan umumnya setiap jam (composite sampling) menggunakan wadah berukuran kira-kira 100 mL. Dengan demikian, setelah 24 jam akan diperoleh total sampel sebanyak 2-3 Liter. Jika tidak memungkinkan, maka sampling dapat dilakukan setiap 2-3 jam sekali. Ada pula kondisi di mana operator hanya datang pada siang hari sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil sampel setiap jam. Untuk kasus seperti ini, dapat dilakukan grab sampling pada saat periode debit maksimum.

Lokasi-lokasi Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dapat dilakukan di influen, tangki, maupun efluen suatu unit pengolahan. Parameter yang dianalisis dari sampel pada tiap lokasi tersebut dapat berbeda-beda tergantung dari kebutuhan.  Sampel sebaiknya diambil di titik yang memiliki aliran yang sangat turbulen untuk menjamin air limbah tercampur lebih sempurna.

Berapa Banyak Sampel yang Harus Diambil?

Volume sampel yang akan diambil akan tergantung dari volume yang diperlukan dari masing-masing analisis serta banyaknya analisis yang akan dilakukan. Oleh sebab itu, sebelum mengambil sampel sebaiknya jenis analisis,banyaknya pengulangan yang akan dilakukan, dan volume yang diperlukan untuk tiap analisis telah ditentukan. Volume yang diambil pada saat sampling adalah total dari keseluruhan volume tersebut (berbeda-beda pada tiap titik sampling) dan sebaiknya volume yang diambil dilebihkan agar pada saat analisis tidak kekurangan sampel.

Perlakuan Sampel

Setelah melakukan pengambilan sampel, sebaiknya sampel segera dianalisis untuk menghindari perubahan karakteristik sampel. Namun, ada kalanya operator tidak dapat langsung menganalisis sampel mereka. Untuk itu, perlakuan sampel harus diperhatikan untuk meminimasi perubahan karakteristik sampel. Informasi mengenai tata cara pengawetan dan penyimpanan sampel air limbah dapat dilihat di Lampiran B SNI 6989.59.2008. SNI ini dapat diperoleh melalui situs milik BSN.

Panduan untuk Memperoleh Sampel yang Reprsentatif

Mengingat sampel yang diambil akan mementukan pengoperasian instalasi, tentunya kita ingin agar sampel yang diambil mewakili air limbah yang sedang diolah. Beberapa panduan dari buku Operation of Municipal Wastewater Treatment Plants untuk memperoleh sampel yang representatif antara lain:

1. Ambil sampel di titik yang alirannya tercampur dengan sangat baik

2. Hindari pengambilan sampel pada lokasi terjadinya pengendapan atau lokasi-lokasi dimana terdapat sampah terapung

3. Hindari lokasi yang memiliki endapan atau lokasi dimana terdapat akumulasi padatan pada dinding saluran

4. Ambil sampel influen pada titik hulu aliran buangan resirkulasi

5. Ambil sampel pada titik pembuangan tangki

6. Setelah menentukan titik pengambilan sampel, tandai lokasi tersebut dengan cat atau penanda lainnya dan selalu lakukan pengambilan sampel di lokasi yang sama

7. Apabila sampel akan diambil dari pipa, pastikan jalur pengambilan sampel sependek mungkin

8. Tandai kontainer untuk masing-masing lokasi dan jangan menukarnya dengan kontainer untuk lokasi yang lain

9. Jangan mencampur peralatan sampling dari satu lokasi dengan lainnya untuk menghindari adanya kontaminasi sampel

10. Pastikan sampel selalu tercampur dengan baik selama proses pengumpulan serta analisis untuk menghindari terjadinya pengendapan

11. Setelah pengumpulan, segera menyimpan sampel sesuai petunjuk pengawetan dan penyimpanan sampel. Temperatur penyimpanan yang umum dipakai adalah 4oC

Sumber:
• Operation of municipal wastewater treatment plants [electronic resource]. Manual of practice: no. 112008: New York : WEF Press : McGraw Hill, c2008.6th ed.
• www.epa.gov/region4/sesd/fbqstp/Wastewater-Sampling.pdf
• www.bsn.go.id

Posted by Muti On April - 9 - 2012 uncategorized

Leave a Reply


6 + 8 =

VIDEO

TAG CLOUD

POPULAR